ADAKAMI – Jepang mempercepat adopsi teknologi tinggi untuk menghadapi lonjakan kasus serangan beruang liar terhadap manusia, dengan memanfaatkan drone dan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat deteksi dan pencegahan. Pendekatan inovatif ini bertujuan tidak hanya menekan risiko serangan, tetapi juga menciptakan keseimbangan antara keselamatan warga dan keberlangsungan satwa liar dalam ekosistem alam.
Lonjakan Insiden Beruang
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami peningkatan signifikan dalam konflik antara manusia dan beruang, terutama di wilayah pedesaan dan lereng pegunungan. Data resmi menunjukkan jumlah korban serangan beruang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dengan ratusan orang menjadi korban luka dan puluhan mengalami cedera serius akibat serangan beruang hitam dan cokelat. Faktor seperti perubahan iklim, menyusutnya habitat alami, dan berkurangnya sumber makanan di hutan berkontribusi pada semakin seringnya beruang mendekati pemukiman warga.
Peningkatan frekuensi ini memicu kekhawatiran luas di masyarakat. Selama beberapa musim, beruang-beruang yang lapar semakin berani memasuki kawasan pedesaan, kebun buah, bahkan area permukiman, menimbulkan ketakutan dan kerugian ekonomi bagi penduduk lokal serta wisatawan. Kondisi ini menuntut pendekatan lebih efektif daripada metode tradisional seperti patroli manual atau perangkap.
Teknologi Drone & AI: Solusi Baru
Menanggapi situasi tersebut, D-Academy Tohoku, sebuah lembaga pelatihan drone di Prefektur Akita, tengah mengembangkan sistem deteksi beruang berbasis drone yang dipadukan dengan kemampuan kecerdasan buatan. Sistem ini dirancang untuk secara otomatis mengenali, melacak, dan melaporkan keberadaan beruang kepada pihak berwenang.
Drone yang digunakan memiliki ukuran sekitar 98 cm x 76 cm x 48 cm dan dilengkapi dengan berbagai sensor canggih, termasuk kamera penglihatan malam, kamera inframerah untuk mengukur suhu tubuh, serta software AI yang mampu menganalisis citra udara secara real time. Ketika ada laporan penampakan beruang atau anomali dalam pola perilaku satwa liar, drone akan segera diterbangkan untuk mengidentifikasi target, bahkan di area yang sulit dijangkau oleh manusia.
Sistem ini bekerja dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Peluncuran Drone: Setelah menerima laporan atau indikasi pergerakan beruang, pilot akan mengerahkan drone ke area target.
- Analisis AI: Gambar yang diambil dari kamera diproses oleh perangkat lunak AI yang mampu mengenali bentuk dan karakteristik beruang, termasuk saat sebagian tubuh hewan tertutup vegetasi.
- Mode Otonom: Jika beruang terdeteksi, drone akan otomatis beralih ke mode otonom untuk melacak pergerakan satwa tersebut.
- Pelaporan Real-Time: Koordinat GPS beruang dibagikan melalui aplikasi smartphone kepada otoritas pemerintahan, kepolisian, tim pemburu lokal, dan tim tanggap darurat.
Manfaat dan Harapan
Menurut peneliti dari D-Academy, teknologi ini dirancang untuk memungkinkan pengawasan area yang luas dengan jumlah personel minimal. Dengan deteksi lebih awal, pihak berwenang memiliki lebih banyak opsi dalam menanggapi ancaman, termasuk merelokasi beruang ke habitat yang lebih aman atau menerapkan pengusiran non-mematikan, tanpa harus langsung memburu atau membunuh satwa tersebut.
“Dengan deteksi awal, kita memiliki lebih banyak pilihan selain membunuh hewan tersebut,” ujar Kanako Ishii, peneliti senior di D-Academy Tohoku. “Kami berharap sistem ini dapat meminimalkan pertemuan tak diinginkan antara manusia dan beruang serta mendukung pemisahan yang lebih baik di antara keduanya.”
Upaya ini juga mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah dan berbagai perusahaan teknologi. Beberapa badan usaha teknologi, termasuk operator telekomunikasi besar dan perusahaan rintisan, kini turut mengembangkan varian sistem serupa untuk deteksi beruang dan satwa liar lainnya. Bahkan beberapa sudah mulai dipasarkan secara komersial, membuka peluang bagi adopsi lebih luas di seluruh Jepang.
Tantangan dan Respons Masyarakat
Namun, implementasi teknologi ini tidak tanpa tantangan. Beberapa ahli lingkungan mengingatkan bahwa pendekatan teknologi harus seimbang dengan pelestarian habitat alami serta upaya pencegahan akar penyebab konflik manusia-satwa. Ada juga kekhawatiran terkait biaya, ketersediaan tenaga ahli, dan respons real-time di area terpencil yang masih minim infrastruktur komunikasi.
Di sisi lain, masyarakat lokal menyampaikan harapan tinggi bahwa teknologi canggih ini dapat mengembalikan rasa aman di desa-desa dan kawasan wisata yang kerap terdampak konflik beruang. Dengan teknologi tersebut, warga berharap dapat kembali melakukan kegiatan harian tanpa rasa takut akan ancaman satwa liar.
Masa Depan Teknologi Pencegah Serangan Beruang
Rencana pengoperasian drone deteksi AI ini dijadwalkan mulai diuji secara komersial dan operasional pada tahun 2026, dengan kemungkinan adopsi lebih awal di beberapa wilayah yang paling terdampak. Jepang memposisikan teknologi ini sebagai bagian penting dari strategi nasional dalam menangani konflik antara manusia dan satwa liar, memperlihatkan potensi teknologi tinggi dalam memecahkan persoalan lingkungan yang serius.
Dengan meningkatnya kasus serangan serta dampak sosial dan ekonomi yang timbul, teknologi seperti drone dan AI bukan lagi sekadar inovasi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga keselamatan warga, melindungi satwa liar, serta menciptakan koeksistensi yang lebih harmonis.

