ADAKAMI – Momen liburan akhir tahun selalu dinanti banyak orang karena menjadi kesempatan untuk melepas penat setelah setahun penuh bekerja. Namun di balik euforia perayaan, diskon besar-besaran, tren media sosial, dan tawaran “murah sekarang, bayar nanti” (paylater) juga dapat memicu perilaku konsumtif yang berpotensi merusak kesehatan finansial seseorang. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu pendorong utama perilaku boros ini, terutama di kalangan generasi muda yang aktif di media sosial.
Diskon dan Iklan yang Memicu FOMO
Pada periode liburan seperti Natal, Tahun Baru, dan musim pesta akhir tahun, konsumen kerap dibombardir dengan iklan diskon besar-besaran maupun promosi paylater di platform belanja online dan media sosial. Banyak orang merasa harus ikut serta membeli barang tertentu karena takut ketinggalan (FOMO), meskipun barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Pakar ekonomi menilai bahwa ini bukan sekadar soal kurangnya literasi keuangan, tetapi juga faktor psikologis yang membuat orang lebih tergerak untuk membeli secara impulsif daripada melakukan pertimbangan rasional.
Sebuah studi akademik juga menunjukkan bahwa FOMO, perbandingan sosial, dan materialisme memengaruhi perilaku penggunaan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater di mana konsumen lebih terdorong memenuhi keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya terhadap keuangan pribadi..
Risiko Utang Paylater di Akhir Tahun
Paylater sering dipandang sebagai solusi cepat untuk mendapatkan barang atau pengalaman liburan yang diinginkan tanpa harus membayar penuh di muka. Namun menurut para ahli keuangan, paylater sejatinya adalah utang jangka pendek yang harus dibayar di masa datang lengkap dengan biaya tambahan seperti bunga atau denda keterlambatan jika pembayaran tidak selesai tepat waktu.
Selain itu, penelitian internasional memperingatkan bahwa penggunaan BNPL bisa menimbulkan jebakan utang, terutama jika konsumen tidak memperhatikan semua risiko dan biaya yang tersembunyi. Bentuk “bebas bunga” kadang disertai biaya lain atau persyaratan yang tidak jelas, dan kegagalan membayar tepat waktu bisa membuat konsumen dikenai biaya berat. Bahkan dalam beberapa kasus, keterlambatan pembayaran paylater kini dapat dilaporkan ke biro kredit, yang berpotensi merusak skor kredit seseorang.
Tips Finansial Agar Tetap Sehat Selama Liburan
Untuk membantu masyarakat tetap menikmati liburan akhir tahun tanpa terjebak dalam utang yang tidak perlu, berikut sejumlah tips finansial penting:
1. Buat Anggaran Liburan yang Realistis
Langkah pertama adalah menetapkan batas anggaran total untuk liburan. Tentukan seberapa besar biaya yang bisa Anda alokasikan untuk transportasi, akomodasi, makan, hiburan, dan belanja oleh-oleh. Pisahkan kebutuhan pokok dan hiburan agar tidak tercampur sehingga pengeluaran bisa lebih terkontrol.
Para ahli juga menyarankan untuk hanya mengalokasikan sebagian kecil dari pendapatan bulanan untuk pos hiburan misalnya 20–30 persen dan sisanya tetap diprioritaskan untuk kebutuhan rutin serta tabungan darurat.
2. Hindari Penggunaan Utang Tanpa Perencanaan
Sebelum menggunakan paylater untuk pembelian liburan, pertimbangkan apakah Anda benar-benar mampu membayar cicilannya nanti. Jika jawabannya “tidak”, lebih baik hindari metode pembayaran ini dan pikirkan kembali pilihan yang lebih aman seperti menabung dulu atau mengurangi daftar belanja Anda.
Selain itu, hindari membuka banyak akun paylater sekaligus karena hal ini dapat menambah beban pengelolaan pembayaran yang rentan terlewat.
3. Terapkan Discipline dalam Belanja
Gunakan prinsip 24 jam yaitu menunda keputusan pembelian besar selama setidaknya satu hari agar dorongan impulsif tidak langsung menggerakkan Anda untuk bertransaksi. Prinsip sederhana ini membantu memfilter barang-barang yang sebenarnya tidak begitu penting.
Metode lain adalah mencatat semua pengeluaran dalam aplikasi keuangan atau buku catatan untuk selalu sadar terhadap arus keluar uang Anda.
4. Pilih Liburan yang Bermakna dan Hemat
Liburan tidak selalu berarti perjalanan jauh ke luar negeri atau tempat mahal. Banyak aktivitas sederhana yang sama menyenangkannya seperti piknik keluarga, hiking, atau mengeksplorasi wisata lokal di dekat tempat tinggal yang bisa memberikan pengalaman liburan bermakna tanpa harus menguras kantong.
5. Jaga Keamanan Transaksi Digital
Karena liburan sering disertai transaksi online, penting juga menjaga keamanan finansial digital Anda. Gunakan koneksi internet pribadi ketika bertransaksi, aktifkan autentikasi tambahan seperti multi-factor authentication (MFA), dan rutin periksa saldo serta riwayat transaksi untuk menghindari penyalahgunaan data atau kesalahan pembayaran.
Menjaga Kesiapan Finansial Jangka Panjang
Ahli keuangan mengingatkan bahwa kesehatan finansial bukan hanya soal mampu membeli barang yang diinginkan, tetapi juga mampu menjaga stabilitas finansial jangka panjang. Liburan seharusnya menjadi momen pengisian ulang energi, bukan memicu Krisis Finansial di bulan-bulan berikutnya.
Dengan strategi belanja yang bijak, pemahaman risiko utang paylater, dan disiplinnya pengelolaan anggaran, masyarakat tetap bisa merayakan liburan akhir tahun dengan gembira sekaligus aman secara finansial. Kebebasan finansial sesungguhnya bukan diukur dari seberapa besar barang yang kita miliki, tetapi dari seberapa bijak kita mengatur dan menggunakan sumber daya yang ada.

