ADA KAMI – Memasuki awal tahun 2026, intensitas curah hujan di berbagai wilayah Indonesia mulai meningkat secara signifikan. Perubahan cuaca yang drastis dari panas ke hujan sering kali memicu penurunan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak. Kelompok usia ini menjadi yang paling rentan terpapar berbagai penyakit musiman seperti flu, demam berdarah (DBD), diare, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Menyikapi kondisi ini, para ahli kesehatan menekankan pentingnya langkah preventif ekstra dari orang tua untuk memastikan buah hati mereka tetap sehat dan aktif meskipun cuaca sedang tidak bersahabat.
Mengapa Anak Lebih Rentan Saat Musim Hujan?
Secara biologis, sistem imun anak-anak masih dalam tahap perkembangan. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi selama musim hujan menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur. Genangan air yang muncul setelah hujan juga menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, kasus penyakit menular biasanya mengalami lonjakan hingga 30% pada puncak musim penghujan jika tidak dibarengi dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
5 Strategi Utama Menjaga Kesehatan Anak
Untuk meminimalisir risiko jatuh sakit, berikut adalah langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan di rumah:
1. Memperketat Pola Makan dan Asupan Nutrisi
Daya tahan tubuh dimulai dari meja makan. Pastikan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya akan vitamin dan mineral.
- Vitamin C dan Zinc: Kandungan ini sangat vital untuk memperkuat sistem imun. Berikan buah-buahan seperti jeruk, jambu biji, atau pepaya.
- Protein Berkualitas: Telur, ikan, dan daging tanpa lemak membantu perbaikan sel tubuh.
- Makanan Hangat: Sup ayam atau sayuran hangat tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga membantu menjaga suhu tubuh internal tetap stabil.
2. Menjaga Hidrasi dan Kebersihan Air
Banyak orang tua mengira anak tidak butuh banyak minum saat cuaca dingin. Padahal, dehidrasi dapat menurunkan fungsi selaput lendir di hidung dan tenggorokan yang berfungsi menghalau virus. Pastikan anak minum air putih yang cukup dan telah dimasak hingga mendidih untuk menghindari bakteri penyebab diare dan tipus.
3. Rutinitas Cuci Tangan dan Mandi Air Hangat
Setelah beraktivitas di luar atau terkena air hujan, segeralah minta anak untuk mandi. Mandi dengan air hangat membantu menormalkan suhu tubuh yang turun akibat air hujan dan membersihkan kuman yang menempel di kulit. Jangan lupa edukasi anak untuk mencuci tangan menggunakan sabun setiap kali sebelum makan dan setelah dari toilet.
4. Melakukan Gerakan 3M Plus untuk Cegah DBD
Musim hujan identik dengan DBD. Orang tua harus proaktif melakukan:
- Menguras tempat penampungan air.
- Menutup rapat tangki atau drum air.
- Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
- Plus: Menggunakan kelambu, lotion anti-nyamuk khusus anak, atau menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender di sekitar rumah.
5. Memastikan Istirahat yang Cukup
Tidur adalah waktu utama bagi tubuh untuk melakukan regenerasi dan memperkuat imun. Anak usia sekolah membutuhkan setidaknya 9–11 jam tidur per malam. Kurang tidur terbukti secara klinis dapat membuat anak lebih mudah tertular virus flu.
Pentingnya Kelengkapan Imunisasi
Selain menjaga pola hidup, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terus mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi dasar dan tambahan. Di musim hujan, vaksin Influenza sangat direkomendasikan untuk diberikan setahun sekali. Vaksin ini efektif mengurangi risiko komplikasi berat akibat infeksi virus influenza yang sering mewabah saat kelembapan udara tinggi.
“Mencegah selalu lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Orang tua harus peka terhadap gejala awal seperti demam tinggi yang tidak turun dalam dua hari, anak lemas, atau munculnya bintik merah,” ujar salah satu praktisi kesehatan anak di Jakarta.
Kapan Harus ke Dokter?
Para orang tua diimbau tidak melakukan pengobatan mandiri (self-medication) yang berlebihan, terutama dalam pemberian antibiotik tanpa resep. Segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan jika anak menunjukkan gejala berikut:
- Demam tinggi di atas 39°C.
- Anak mengalami sesak napas atau napas berbunyi (wheezing).
- Terjadi muntah terus-menerus dan diare hebat yang berisiko dehidrasi.
- Anak tampak sangat lemas dan tidak mau makan atau minum.
Dengan persiapan yang matang dan perhatian ekstra pada kebersihan serta nutrisi, musim hujan tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan bagi kesehatan keluarga. Mari ciptakan lingkungan yang aman dan sehat agar anak tetap bisa bereksplorasi meski di bawah rintik hujan.

