ADAKAMI – Pemberian telepon pintar (smartphone) kepada anak-anak di usia yang terlalu dini, terutama sebelum menginjak usia 12 tahun, kini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh para peneliti di Amerika Serikat menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kepemilikan ponsel pada usia praremaja dengan peningkatan risiko masalah kesehatan fisik dan mental yang dapat berdampak jangka panjang.
Para ahli kini menegaskan bahwa keputusan untuk memberikan ponsel pintar kepada anak pada dasarnya adalah keputusan kesehatan, bukan sekadar pembelian perangkat. Kepemilikan ponsel sebelum usia 12 tahun berpotensi mengganggu tugas-tugas perkembangan penting anak, seperti pola tidur, interaksi sosial, dan kemampuan pengaturan emosi.
Tiga Ancaman Kesehatan Utama
Temuan penelitian terhadap puluhan ribu anak praremaja menggarisbawahi tiga masalah kesehatan utama yang siap mengintai anak yang memiliki ponsel di usia 12 tahun atau lebih muda:
1. Risiko Depresi dan Gangguan Mental
Masa remaja merupakan periode yang sangat sensitif di mana perkembangan mental dan emosional berjalan pesat. Penggunaan ponsel pintar, khususnya media sosial, pada usia yang rentan dapat mengeksploitasi kerentanan psikologis anak. Studi tersebut menemukan bahwa anak-anak yang memiliki ponsel pada usia 12 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gejala depresi dibandingkan teman sebayanya yang belum memiliki perangkat.
Ketergantungan pada interaksi digital sering kali menyebabkan isolasi sosial di dunia nyata, komunikasi yang buruk, dan perasaan cemas ketika tidak dapat mengakses ponsel (Nomophobia). Ini dapat mengganggu kemampuan anak untuk berinteraksi secara efektif dan membangun koneksi emosional yang sehat, yang merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental yang stabil.
2. Gangguan Tidur yang Serius
Cahaya biru (blue light) yang dipancarkan dari layar ponsel diketahui dapat menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur alami. Anak-anak yang menggunakan ponsel sebelum tidur, atau menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, rentan mengalami kurang tidur dan penurunan kualitas tidur.
Kurang tidur bukan hanya mengganggu aktivitas harian dan prestasi sekolah anak, tetapi juga menghambat perkembangan otak yang optimal. Para ahli di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga mencatat peningkatan persentase siswa yang tidak cukup tidur dalam dekade terakhir, sebuah tren yang berkaitan erat dengan meningkatnya kepemilikan gawai di usia muda.
3. Obesitas dan Minimnya Aktivitas Fisik
Kepemilikan ponsel di usia praremaja juga dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk aktivitas fisik, seperti bermain di luar atau berolahraga. Anak yang asyik dengan gawai cenderung hidup kurang aktif (sedentary).
Aktivitas fisik adalah pelindung utama terhadap obesitas dan memainkan peran vital dalam meningkatkan kesehatan mental. Ketika waktu anak didominasi oleh screen time, kesempatan mereka untuk bergerak dan membakar kalori akan berkurang drastis, menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak sehat dan masalah kesehatan fisik lainnya, termasuk potensi gangguan pada mata seperti rabun jauh (miopia) dan ketegangan mata.
Rekomendasi untuk Orang Tua
Meskipun ponsel telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, para ahli menyarankan orang tua untuk menunda pemberian ponsel pintar hingga anak mencapai usia yang dianggap lebih matang, idealnya di usia remaja akhir. Jika pemberian ponsel harus dilakukan, penting bagi orang tua untuk:
- Menetapkan Batasan Waktu: Batasi ketat waktu penggunaan ponsel setiap hari.
- Zona Bebas Ponsel: Terapkan aturan tidak ada ponsel di kamar tidur, terutama menjelang waktu tidur, dan saat makan.
- Dorong Aktivitas Fisik: Pastikan anak terlibat dalam kegiatan di luar rumah atau olahraga secara teratur.
- Komunikasi Terbuka: Ajak anak bicara tentang konten yang mereka konsumsi dan risiko cyberbullying serta interaksi daring yang tidak sehat.
Intinya, usia 12 tahun adalah periode perkembangan krusial. Perbedaan antara anak usia 12 tahun dan 16 tahun sangat signifikan dalam hal kematangan emosional. Oleh karena itu, intuisi orang tua dan kemampuan mereka untuk menerapkan batasan yang sehat menjadi kunci dalam menavigasi era digital ini demi melindungi kesehatan generasi muda.

