ADAKAMI – Aplikasi kesehatan digital terkemuka, Halodoc, baru-baru ini merampungkan inisiatif pemeriksaan kesehatan gratis di tiga kota besar di Indonesia. Hasilnya mengejutkan dan menjadi alarm serius bagi kesadaran masyarakat akan deteksi dini. Program yang diikuti oleh ribuan peserta ini mengidentifikasi tingginya persentase warga yang berisiko atau sudah mengidap penyakit kronis, terutama Hipertensi dan Diabetes Mellitus.
Inisiatif “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” ini dijalankan sebagai bagian dari komitmen Halodoc untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan pemeriksaan kesehatan mendasar. Tiga kota yang menjadi fokus utama kegiatan ini adalah Jakarta, Surabaya, dan Medan, merepresentasikan wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk dan aktivitas yang tinggi.
Deteksi Dini Ungkap Ancaman Senyap
Menurut data yang dirilis oleh Halodoc, dari total lebih dari 4.000 peserta yang berpartisipasi dalam program ini, angka temuan kasus tekanan darah tinggi (Hipertensi) dan kadar gula darah yang melebihi batas normal (indikasi Diabetes) berada pada level yang mengkhawatirkan.
“Kami menemukan bahwa lebih dari 30% peserta memiliki indikasi Hipertensi, baik itu pra-hipertensi maupun sudah masuk kategori tahap 1 dan 2. Sementara itu, sekitar 15% peserta menunjukkan kadar gula darah puasa yang tinggi, mengindikasikan mereka berada pada ambang batas pradiabetes atau sudah mengidap Diabetes tipe 2,” ungkap salah satu perwakilan Halodoc dalam konferensi pers virtual di Jakarta.
Temuan ini sangat relevan dengan pernyataan Kementerian Kesehatan RI yang berulang kali menekankan bahwa Hipertensi dan Diabetes merupakan dua penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi penyebab kematian nomor satu dan dua di Indonesia. PTM seringkali disebut “pembunuh senyap” karena berkembang tanpa gejala yang jelas di tahap awal, sehingga deteksi dini menjadi kunci utama untuk pencegahan dan manajemen yang efektif.
Gaya Hidup Modern dan Akses Kesehatan
Tingginya angka temuan risiko ini di perkotaan diduga erat kaitannya dengan gaya hidup modern yang serba cepat. Peningkatan konsumsi makanan cepat saji, kurangnya aktivitas fisik, tingginya tingkat stres, serta kebiasaan merokok, secara kolektif meningkatkan risiko seseorang untuk terserang PTM.
Selain faktor gaya hidup, inisiatif Halodoc ini juga menyoroti masih minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Banyak peserta yang baru menyadari adanya risiko kesehatan setelah mengikuti program cek gratis ini.
“Angka 4.000 peserta bukan sekadar statistik, tetapi merupakan gambaran nyata bahwa masyarakat sebenarnya haus akan akses kesehatan yang mudah. Namun, mayoritas baru akan memeriksakan diri setelah merasa sakit. Padahal, jika kita tahu lebih awal, kita bisa segera melakukan intervensi, baik melalui perubahan gaya hidup maupun pengobatan,” tambah perwakilan Halodoc.
Dukungan Penuh dari Pemerintah
Inisiatif Halodoc ini sejalan dengan arahan pemerintah, khususnya pesan dari Presiden yang mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan agar masyarakat tetap produktif dan mampu berkontribusi membawa Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam kesempatan terpisah, juga telah mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menunggu sakit untuk memeriksakan diri.
“Sehat itu adalah investasi. Apabila kita tahu lebih awal, kita bisa perbaiki. Entah dengan mengubah gaya hidup, atau dengan pengobatan,” ujarnya.
Pasca-program, Halodoc tidak berhenti pada deteksi. Seluruh peserta yang teridentifikasi berisiko diberikan konsultasi gratis dengan dokter melalui aplikasi. Halodoc mendorong peserta untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih komprehensif, serta memanfaatkan fitur konsultasi dokter, apotek, dan layanan Homecare Halodoc untuk tindak lanjut pemeriksaan kolesterol dan gula darah rutin tanpa harus keluar rumah.
Temuan Halodoc di tiga kota ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, penyedia layanan kesehatan, hingga individu, untuk meningkatkan upaya preventif. Memperkuat program deteksi dini, mempromosikan gaya hidup sehat, dan memastikan akses ke layanan kesehatan yang terjangkau adalah langkah kolektif yang harus terus dilakukan untuk menekan laju PTM di Indonesia.

