ADA KAMI – Sejumlah produsen mobil asal Jepang kini berada di persimpangan strategi global di tengah berkembangnya pasar kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia. Meski Jepang dikenal sebagai salah satu raksasa otomotif dunia, tantangan baru yang muncul dari kompetisi global dan dinamika pasar domestik membuat langkah mereka untuk masuk dan berekspansi di pasar EV Indonesia menjadi lebih kompleks dan penuh pertimbangan.
Jepang Mulai Perhitungkan Indonesia sebagai Pasar EV Potensial
Belakangan ini para eksekutif dari pabrikan otomotif Jepang menunjukkan minat yang lebih serius terhadap potensi pasar EV di Indonesia, terutama menyusul strategi diversifikasi produk mereka ke segmen elektrifikasi. Indonesia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa serta target pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi menjadikannya pasar yang sangat menggiurkan.
Namun demikian, langkah produsen Jepang ini tidak semudah sekadar “memasarkan mobil listrik di Indonesia.” Mereka tengah mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari strategi harga, preferensi konsumen lokal, hingga dukungan kebijakan pemerintah sebelum produk mereka benar-benar resmi masuk ke pasar Indonesia.
Kompetisi Ketat dengan Mobil Listrik Asal China
Salah satu alasan utama Jepang berpikir ulang soal strategi EV di Indonesia adalah kompetisi yang semakin intens dari produsen mobil listrik China seperti BYD, Wuling, Chery, dan lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, mobil listrik China berhasil mengambil porsi pasar yang signifikan berkat strategi harga kompetitif dan fitur yang menarik bagi konsumen Indonesia.
Dominasi Mobil China di Indonesia
- Penjualan mobil China di Indonesia tumbuh pesat naik lebih dari 150% YoY di awal 2025 sementara penjualan merek Jepang justru mengalami penurunan.
- China kini diperkirakan memiliki sekitar 90% pangsa pasar EV di Indonesia setelah berkembangnya berbagai merek dan model.
Kondisi ini membuat produsen Jepang terpaksa memikirkan strategi baru: apakah tetap fokus pada teknologi hybrid yang selama ini menjadi kekuatan utama mereka, atau beralih lebih agresif pada produk BEV (Battery Electric Vehicle) yang kini mendapatkan momentum besar.
Preferensi dan Harapan Konsumen Indonesia
Permintaan konsumen Indonesia juga jadi faktor penting yang sedang dipertimbangkan oleh pabrikan Jepang. Beberapa hal yang menjadi fokus evaluasi adalah:
- Harga jual akhir di pasar Indonesia, yang sangat sensitif terhadap harga dibandingkan negara lain.
- Infrastruktur pengisian baterai (charging station) yang masih dalam tahap perkembangan di banyak daerah.
- Persepsi konsumen terhadap mobil listrik versus hybrid, di mana mobil hybrid saat ini masih dianggap “jembatan” menuju EV penuh karena lebih familiar dan lebih mudah dirawat.
Belum lagi isu biaya jangka panjang seperti biaya penggantian baterai yang masih tinggi serta pertanyaan konsumen tentang resale value EV di pasar Indonesia. Semua ini membuat para pembuat mobil Jepang menilai secara seksama apakah produk mereka akan diterima dengan baik atau tidak.
Kebijakan dan Regulasi Pemerintah RI
Sementara itu, pemerintah Indonesia tetap menunjukkan dukungan terhadap pengembangan mobil listrik termasuk insentif pajak dan potongan tarif impor bagi kendaraan yang memenuhi syarat tertentu. Hal ini membuat beberapa produsen, termasuk Jepang, makin tertarik melihat peluang jangka panjang di pasar ini.
Namun kebijakan insentif juga mengalami masa transisi, di mana insentif yang sudah cukup signifikan bagi EV terkadang dipertimbangkan ulang, sementara mobil hybrid dan ICE (Internal Combustion Engine) juga ikut dikaji ulang mekanismenya. Ini menambah kompleksitas bagi produsen Jepang dalam merancang model bisnis mereka di Indonesia.
Strategi Pabrikan Jepang: Hybrid, BEV, atau Kolaborasi?
Beberapa pabrikan Jepang seperti Toyota dan Nissan kini tidak hanya mempertimbangkan EV murni saja, namun juga lini hybrid dan plug-in hybrid (PHEV) sebagai strategi jembatan. Pendekatan ini dianggap lebih realistis mengingat sebagian besar konsumen Indonesia belum siap beralih penuh ke EV karena alasan harga, jaringan pengisian, dan kebiasaan penggunaan kendaraan sehari-hari.
Selain itu, ada indikasi bahwa Jepang juga melihat peluang kerja sama dengan pabrikan lain, termasuk kemungkinan joint venture maupun kolaborasi teknis untuk memperkuat posisi mereka di pasar EV ASEAN, termasuk Indonesia. Strategi seperti ini sudah pernah terjadi di pasar lain seperti China, di mana produsen Jepang menjalin kerja sama dengan pabrikan lokal untuk menekan biaya dan mempercepat adaptasi teknologi EV.
Tantangan Infrastruktur dan Ekosistem EV di Indonesia
Faktor lain yang dipertimbangkan adalah kesiapan ekosistem EV Indonesia itu sendiri. Meski populasi pengguna semakin meningkat, masih terdapat tantangan berat seperti:
- Kurangnya stasiun pengisian umum yang tersebar merata di luar kota-kota besar.
- Standarisasi dan dukungan layanan purna jual yang kuat untuk EV.
- Ketidakpastian tentang tren harga jual dan biaya operasional EV dalam jangka waktu panjang.
Kondisi infrastruktur ini membuat banyak produsen Jepang masih memilih sikap wait and see agar strategi pemasaran mereka tidak terburu-buru namun tetap tepat sasaran.

