Heroik! Polri Tembus Desa Terisolasi Watupayung Aceh Tengah
Kesehatan

Heroik! Polri Tembus Desa Terisolasi Watupayung Aceh Tengah

ADA KAMI – Di balik rimbunnya hutan dataran tinggi Gayo, sebuah perjuangan melawan waktu dan alam baru saja diukir oleh aparat kepolisian dan petugas kesehatan. Pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, Desa Watupayung (Kampung Atu Payung) sempat terputus dari dunia luar. Namun, keterbatasan akses tidak menghentikan langkah para abdi negara untuk memastikan nyawa warga di pelosok tetap terlindungi.

Perjalanan 14 Jam Melawan Medan Ekstrem

Misi ini bermula dari laporan adanya warga, termasuk seorang bayi berusia lima bulan berinisial RJ, yang membutuhkan pertolongan medis segera. Namun, jalan utama menuju desa tersebut hancur total. Material longsor berupa bongkahan batu besar, lumpur setinggi lutut, dan pohon tumbang menutup akses kendaraan roda empat, bahkan motor trail sekalipun menemui titik buntu.

Tim gabungan dari Polres Aceh Tengah dan petugas kesehatan dari Sidokkes harus menempuh jarak sekitar 54 kilometer dari pusat kota. Di titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan, mereka terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Medan menuju lokasi memang sangat berat. Kami harus mendaki perbukitan yang licin dan menyeberangi jalur-jalur yang tertutup material longsor,” ujar Kapolres Aceh Tengah, AKBP Muhamad Taufiq.

Perjalanan yang dalam kondisi normal bisa ditempuh dalam waktu jauh lebih singkat, kali ini memakan waktu hingga 14 jam. Dengan membawa tas medis dan bantuan logistik di pundak, para petugas berjuang di bawah guyuran hujan dan suhu dingin khas pegunungan untuk mencapai warga yang terisolasi.

Prioritas Kesehatan Bayi dan Lansia

Setibanya di Desa Watupayung, tim medis langsung bergerak cepat. Fokus utama adalah melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh terhadap bayi RJ yang sebelumnya dikabarkan menderita sakit kulit akibat kondisi lingkungan pascabencana yang tidak higienis.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter kepolisian, bayi tersebut dinyatakan dalam kondisi stabil, meski memerlukan perawatan kulit intensif dan pemenuhan gizi tambahan. Tak hanya bayi RJ, puluhan warga lansia juga mendapatkan pemeriksaan tensi darah, pemberian vitamin, serta pengobatan untuk penyakit umum pascabencana seperti gatal-gatal (ISPA) dan kelelahan fisik.

Kehadiran tim kesehatan di tengah desa yang sunyi dan terputus aksesnya ini disambut haru oleh penduduk setempat. Selama berhari-hari, mereka hanya mengandalkan persediaan makanan yang tersisa tanpa kepastian kapan bantuan medis akan tiba.

Distribusi Logistik di Titik Terisolir

Selain pelayanan kesehatan, personel Polri juga menyalurkan bantuan logistik berupa bahan pangan pokok, susu bayi, dan perlengkapan sanitasi. Mengingat akses jalan yang masih lumpuh, distribusi bantuan dilakukan secara bertahap menggunakan bantuan personel yang berjalan kaki secara estafet.

Upaya ini merupakan bagian dari operasi kemanusiaan yang lebih luas di Aceh Tengah. Selain Watupayung, beberapa desa lain di Kecamatan Linge dan Lut Tawar juga menjadi sasaran prioritas karena dampak kerusakan infrastruktur yang parah.

Komitmen Polri Hadir untuk Masyarakat

Kapolres Aceh Tengah menegaskan bahwa aksi “tembus desa terisolasi” ini adalah wujud nyata kehadiran negara di tengah kesulitan rakyat.

“Kami tidak ingin ada warga yang merasa ditinggalkan. Sekecil apa pun aksesnya, kami akan berupaya maksimal untuk sampai ke sana,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, upaya pembersihan material longsor menggunakan alat berat terus dilakukan oleh BPBD dan dinas terkait agar akses transportasi menuju Desa Watupayung kembali normal. Namun, selama jalur belum stabil, Polri berkomitmen untuk terus menyiagakan personel di titik-titik terdekat guna menjamin suplai kebutuhan dasar warga tidak terputus.