ADAKAMI – Makanan berpengawet menjadi perhatian serius bagi ahli kesehatan dan pejabat publik karena potensi risiko kesehatannya. Banyak produk makanan yang mengandung bahan pengawet dan aditif, yang jika dikonsumsi secara berlebihan atau tanpa sadar, dapat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan jangka pendek hingga kronis. Baru-baru ini, Pemerintah Kota Pematangsiantar mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pangan yang dikonsumsi agar bebas dari bahan berbahaya seperti formalin dan zat tidak aman lainnya. Pernyataan ini disampaikan menyusul temuan formalin yang didistribusikan melalui sejumlah sarana di Sumatera Utara oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM).
Apa Itu Bahan Pengawet?
Bahan pengawet adalah zat tambahan yang ditambahkan pada makanan untuk mencegah kerusakan, memperpanjang masa simpan, dan menjaga warna, aroma, atau tekstur makanan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), food additives termasuk pengawet dinilai dan dievaluasi secara internasional untuk memastikan keamanan mereka sebelum digunakan dalam makanan. Namun, meskipun disetujui regulator, bukan berarti semua bahan ini sepenuhnya aman untuk dikonsumsi dalam jumlah besar atau terus-menerus.
Risiko Kesehatan dari Pengawet dan Makanan Olahan
Beberapa studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa makanan yang berpengawet dan sangat diproses (ultra-processed foods) yang sering mengandung banyak aditif berhubungan dengan berbagai efek buruk bagi kesehatan. Penelitian besar yang dipresentasikan dalam konferensi kardiologi menyimpulkan bahwa konsumsi makanan ultra‑proses yang tinggi dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, kanker, gangguan pencernaan, obesitas, diabetes tipe 2, dan bahkan kematian dini. Setiap peningkatan 100 gram makanan ultra‑proses dalam diet harian dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai kondisi tersebut.
Selain itu, risiko kanker yang terkait dengan makanan sangat olahan dan bahan tambahan juga menjadi fokus perhatian ilmuwan. Peninjauan besar terhadap studi jangka panjang menunjukkan hubungan antara makanan ultra‑proses dan risiko lebih tinggi untuk beberapa jenis kanker, termasuk kanker ovarium dan payudara. Dalam penelitian komprehensif lainnya, ditemukan bahwa pola konsumsi makanan ultra‑proses dapat berdampak negatif pada setiap sistem organ utama tubuh manusia
Dampak Langsung pada Tubuh
Studi mengenai pengawet tertentu juga mengungkapkan risiko spesifik. Sebagai contoh, beberapa bahan pengawet seperti TBHQ (tert‑butylhydroquinone) yang digunakan pada ratusan makanan populer diduga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh berdasarkan data laboratorium dan model percobaan. Meskipun data manusia masih terbatas, temuan ini mengundang perhatian terhadap kemungkinan dampak pada respons imun dan sensitivitas terhadap infeksi.
Penelitian lain secara khusus menyoroti efek pengawet terhadap mikrobioma usus komunitas bakteri penting dalam sistem pencernaan. Tambahan pengawet tertentu dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik, yang berpotensi memengaruhi sistem pencernaan dan sistem imun.
Kasus Lokal dan Tindakan Pemerintah
Di tingkat lokal, berbagai temuan menunjukkan bahaya nyata bila keamanan pangan diabaikan. Di Sumatera Utara, BBPOM menemukan formalin dan bahan berbahaya lainnya yang diedarkan dalam jaringan distribusi makanan. Respons cepat dari pemerintah kota termasuk himbauan kepada masyarakat untuk cermat memilih produk makanan dan memperhatikan label bahan.
Kejadian‑kejadian seperti ini mencerminkan lemahnya pengawasan di beberapa titik rantai pasok, terutama dalam penjualan makanan siap santap atau dijual oleh pedagang kecil. Studium yuridis di Indonesia bahkan menunjukkan bahwa penggunaan bahan berbahaya seperti rhodamine B pewarna berbahaya memiliki sanksi hukum, namun implementasi terhadap produsen masih menjadi tantangan.
Cara Masyarakat Melindungi Diri Sendiri
Ahli gizi dan kesehatan merekomendasikan beberapa langkah praktis agar masyarakat dapat terhindar dari efek buruk pengawet dan aditif:
- Periksa label bahan makanan: Selalu baca daftar bahan untuk mengidentifikasi bahan pengawet dan aditif. Bahan yang sulit diucapkan atau tidak dikenal bisa menandakan banyak zat buatan.
- Kurangi konsumsi makanan ultra‑proses: Alihkan pola makan ke makanan segar seperti buah, sayur, dan makanan yang dimasak sendiri di rumah.
- Hindari minuman manis dan makanan ringan berlebihan: Produk tersebut sering mengandung pengawet, pewarna, dan gula tambahan yang tinggi.
- Pilih alternatif alami: Gunakan teknik pengawetan alami seperti pengeringan, pengasapan, atau pendinginan bila memungkinkan.
- Laporkan produk mencurigakan: Masyarakat bisa melapor ke otoritas kesehatan setempat jika menemukan produk yang tampak berbahaya atau tidak sesuai standar.

