ADAKAMI – Provinsi Aceh kini menjadi titik fokus krisis kesehatan paling parah pasca-serangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera. Di tengah lumpuhnya layanan kesehatan dan putusnya akses, nyawa ratusan ribu kelompok rentan, terutama ibu hamil, berada dalam ancaman serius, sementara para tenaga medis di garis depan dilaporkan menghadapi tantangan logistik yang ekstrem, bahkan hingga kekurangan pangan.
Musibah besar yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh telah menciptakan bencana kemanusiaan di sektor kesehatan. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (7/12/2025), mengonfirmasi bahwa Aceh adalah provinsi yang paling terpukul, dengan tantangan utama berupa lonjakan kasus penyakit dan hancurnya infrastruktur kesehatan.
Ancaman Nyata bagi Ratusan Ribu Kelompok Rentan
Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan skala masalah yang mencengangkan. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, memaparkan bahwa jumlah kelompok rentan yang terdampak di Aceh mencapai ratusan ribu jiwa. Secara spesifik, terdapat 394.250 ibu hamil dan 101.008 balita yang kini terisolasi dari layanan kesehatan yang seharusnya mereka terima secara rutin.
Situasi ini menciptakan kondisi genting, terutama bagi ibu hamil yang memerlukan pemeriksaan antenatal berkala dan pertolongan persalinan darurat. Dalam beberapa kasus, akses yang terputus total telah memaksa tim medis melakukan operasi penyelamatan dramatis.
Contoh heroik terjadi di RSUD Pidie Jaya, di mana tim medis gabungan, termasuk relawan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), harus melakukan operasi sesar darurat beruntun untuk menyelamatkan tiga ibu hamil dengan kondisi kritis seperti Preeklampsia Berat (PEB), riwayat operasi caesar sebelumnya dengan janin letak lintang, dan ketuban pecah dini. Kelangsungan hidup ibu dan bayi dalam situasi darurat bencana semacam ini sangat bergantung pada kecepatan dan ketersediaan fasilitas.
Selain ibu hamil, ancaman serupa juga membayangi 545 pasien hemodialisa (cuci darah) yang harus menjalani terapi rutin. Kerusakan pada unit cuci darah di sejumlah rumah sakit di Aceh memaksa pasien dirujuk ke luar daerah, namun terhambat karena jalur transportasi yang lumpuh.
Dokter di Garis Depan: Kelelahan dan Kelaparan Logistik
Di balik upaya penyelamatan yang heroik, kondisi tenaga medis di lapangan dilaporkan sangat memprihatinkan. Selain mengalami kelelahan ekstrem akibat jam kerja yang tak manusiawi dalam kondisi serba terbatas, mereka juga menghadapi krisis logistik pribadi. Laporan yang mencuat menyebutkan adanya kasus dokter dan tenaga medis yang mengalami kelaparan karena terputusnya pasokan makanan dan kebutuhan dasar ke fasilitas kesehatan yang terisolasi.
Akses jalan yang tertutup longsor dan jembatan yang ambruk telah memutus jalur distribusi logistik medis dan non-medis. Sebagian besar rumah sakit dan puskesmas mengalami kerusakan parah, tergenang banjir, atau terisolasi tanpa pasokan listrik dan BBM yang memadai. Hampir semua alat kesehatan (alkes) di beberapa RSUD, seperti di Aceh Tamiang, terkena banjir, melumpuhkan layanan.
Menanggapi laporan ini, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas menyetujui usulan untuk mempercepat dan memprioritaskan bantuan logistik bagi dokter dan tenaga medis yang berjuang di zona bencana. Hal ini krusial karena moral dan kondisi fisik tenaga kesehatan adalah benteng terakhir dalam menahan krisis ini.
“Kemenkes kini fokus membenahi 18 RS di kota/kabupaten di Aceh. Ada kerusakan alat medis karena terendam banjir. Untuk mengecek dan memperbaiki alat medis, Kemenkes sudah memanggil para vendor untuk mendatangkan teknisi dari Jakarta ke Aceh,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin, menyoroti upaya pemulihan fasilitas.
Harapan di Tengah Darurat: Bantuan dan Pemulihan Akses
Untuk memitigasi bencana kesehatan ini, Kemenkes terus berupaya mengirimkan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dan obat-obatan, meskipun distribusinya terkendala. Pengerahan tim teknisi dari Jakarta untuk memperbaiki alkes yang rusak akibat terendam banjir juga menjadi prioritas.
Di sisi lain, upaya evakuasi dan rujukan terus dilakukan. Tim medis dari Unhas telah mengambil alih layanan trauma di Pidie Jaya untuk memberi kesempatan istirahat kepada tenaga medis lokal yang terdampak. Sementara itu, RS Adam Malik Medan menjadi salah satu rumah sakit rujukan yang mengambil alih sebagian pasien kritis dari Aceh Tamiang.
Krisis kesehatan pascabencana di Aceh ini adalah alarm keras bagi seluruh pihak. Dengan hampir 400 ribu ibu hamil yang membutuhkan perhatian ekstra dan ribuan tenaga medis yang berjuang dalam keterbatasan, pemerintah pusat dan daerah didesak untuk meningkatkan koordinasi darurat dan memastikan bahwa bantuan logistik serta pemulihan akses menjadi prioritas utama demi menyelamatkan nyawa di masa kritis ini.

