ADAKAMI – Pada awal Desember 2025, media nasional melaporkan bahwa adopsi teknologi terutama kecerdasan buatan (AI) di Indonesia tengah memasuki fase percepatan. Menurut riset terbaru, adopsi AI di Indonesia meningkat sangat signifikan: pada 2024, jumlah bisnis yang menggunakan solusi AI naik sebesar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampaknya terasa nyata. Dari sekitar 18 juta bisnis yang telah menggunakan AI, hampir 60 persen melaporkan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 16 persen. Selain itu, lebih dari separuh menyebut bahwa penggunaan AI membantu memangkas biaya operasional. Ini menegaskan bahwa adopsi AI di Indonesia bukan sekadar tren sesaat, tetapi mulai memengaruhi kinerja perusahaan dari skala kecil hingga menengah.
Dari Konsumsi ke Inovasi Startups jadi Motor Utama
Meskipun mayoritas perusahaan di Indonesia saat ini menggunakan AI untuk keperluan dasar seperti otomasi proses, layanan pelanggan, dan efisiensi operasional, ekosistem startup justru menjadi motor utama inovasi berbasis teknologi. Banyak startup yang mulai mengembangkan produk atau layanan baru berbasis AI, bukan sekadar mengotomasi proses lama.
Dengan kata lain, di Indonesia adopsi teknologi baru tidak hanya bersifat pasif (menggunakan alat), tetapi mulai bergerak ke arah aktif: menciptakan ekosistem teknologi sendiri. Ini menjadi langkah penting menuju transformasi digital yang lebih dalam dari sekadar “menggunakan” ke “berinovasi”.
Kenapa Indonesia Bisa “Menyalip” Banyak Negara
Beberapa faktor mendorong percepatan ini:
- Demografi muda dan melek digital: Penduduk Indonesia didominasi generasi produktif yang terbiasa dengan internet dan smartphone, sehingga distribusi dan akses teknologi bisa lebih cepat menyebar.
- Penetrasi internet & infrastruktur digital yang meluas: Dengan semakin tingginya penetrasi internet dan perangkat mobile, masyarakat dan bisnis di Indonesia semakin mudah mengakses layanan digital, e-commerce, fintech, dan layanan online lainnya.
- Dorongan dari swasta dan investor global: Banyak perusahaan besar dan startup dunia menaruh perhatian di Indonesia, membuat investasi di infrastruktur cloud, pusat data, dan pelatihan AI. Hal ini mempercepat transformasi digital.
- Kesiapan budaya untuk bereksperimen & adopsi cepat: Di Indonesia ada budaya kolaborasi komunitas tech, startup, dan developer yang memungkinkan teknologi baru diadopsi lebih cepat daripada di lingkungan yang lebih konservatif.
Karena itu, banyak pengamat melihat bahwa Indonesia dan mungkin negara berkembang lain di Asia Tenggara bisa “menyalip” sejumlah negara maju dalam hal adopsi dan inovasi teknologi, termasuk dibanding sebagian Eropa yang lebih lambat dalam adopsi massal teknologi baru.
Tantangan: Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia
Meski adopsi cepat, transformasi ini tidak tanpa hambatan. Hanya sebagian kecil bisnis (sekitar 10 persen) yang telah mengintegrasikan AI dalam keputusan strategis atau model bisnis baru sisanya masih menggunakan AI sebagai alat bantu operasional.
Salah satu tantangan terbesar adalah kekurangan tenaga kerja terampil di bidang digital dan AI. Sekitar 57 persen bisnis menyebut kurangnya ketrampilan digital sebagai penghambat utama perluasan penggunaan AI.
Selain itu, adopsi teknologi harus diimbangi dengan regulasi dan keamanan agar transformasi digital tidak menimbulkan celah terhadap penyalahgunaan data, ketimpangan akses, atau kesenjangan digital.
Implikasi: Mimpi Ekonomi Digital & Masa Depan Indonesia
Dengan adopsi teknologi cepat, Indonesia sedang membangun fondasi kuat menuju ekonomi digital. Integrasi AI dan teknologi digital dapat mendorong produktivitas, mempercepat inklusi keuangan, memperluas layanan publik, serta membuka peluang ekonomi baru bagi startup dan pekerja digital.
Jika tren ini terus berlanjut dengan investasi, pelatihan SDM, dan regulasi mendukung Indonesia bisa berkembang jadi salah satu pusat inovasi teknologi di Asia Tenggara, bahkan menyaingi negara maju dalam beberapa aspek industri digital.
Namun, agar tidak “ketinggalan” pada fase berikutnya, perlu ada komitmen serius dari pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Tanpa peningkatan kapasitas SDM dan regulasi yang adaptif, percepatan ini bisa berhenti di titik adopsi dasar saja.
Wajah Baru Transformasi Digital Indonesia
Fenomena “warga RI ramai‑ramai serbu teknologi baru” bukan sekadar slogan. Data dan tren menunjukkan bahwa Indonesia tengah mengalami percepatan digitalisasi dan adopsi teknologi, khususnya AI. Meskipun sebagian besar masih pada tahap dasar, semangat inovasi terutama dari startup dan komunitas memberi harapan bahwa Indonesia bisa melampaui batasan tradisional dan bahkan menyalip negara-negara yang selama ini dianggap lebih maju.
Tantangan tentu ada, terutama dari sisi SDM dan regulasi, tetapi dengan strategi yang tepat, Indonesia berpotensi membentuk masa depan digital yang inklusif, dinamis, dan produktif.

