ADAKAMI – Industri kesehatan digital (telehealth) di Indonesia memasuki babak baru. Setelah sempat jenuh dengan layanan konsultasi umum pasca-pandemi, kini para pelaku startup mulai membidik segmen yang lebih spesifik dan selama ini dianggap “terlupakan” atau tabu: Kesehatan Pria (Men’s Health).
Data terbaru menunjukkan bahwa pasar kesehatan digital di Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 2,64 miliar (sekitar Rp 44,4 triliun) pada tahun 2025. Di tengah angka fantastis tersebut, layanan khusus pria seperti penanganan disfungsi ereksi, kerontokan rambut (kebotakan), hingga kesehatan mental pria menjadi motor penggerak baru yang menarik minat investor global maupun lokal.
Privasi: Kunci Utama Penetrasi Pasar
Salah satu tantangan terbesar dalam kesehatan pria adalah keengganan untuk berkonsultasi secara tatap muka. Riset internal dari beberapa pelaku industri menyebutkan bahwa kurang dari 20% pria bersedia mendatangi dokter secara langsung untuk keluhan-keluhan yang dianggap sensitif.
“Telehealth memberi peluang untuk mengubah cara pria memandang kesehatan dari sesuatu yang reaktif menjadi investasi jangka panjang,” ungkap seorang praktisi industri dalam laporan detikInet baru-baru ini.
Melalui platform digital, pria mendapatkan akses ke:
- Konsultasi Anonim: Menghilangkan rasa malu saat berhadapan dengan petugas medis di klinik fisik.
- Pengiriman Obat Tertutup: Produk kesehatan dikirimkan dalam kemasan polos tanpa label medis yang mencolok.
- Akses Dokter Spesialis: Memudahkan akses ke urolog atau dermatolog tanpa harus mengantre lama.
Pemain Utama dan Diversifikasi Layanan
Startup seperti Elio, Noah, dan Sirka mulai memperkuat posisi mereka di ceruk pasar ini. Jika sebelumnya layanan kesehatan lebih banyak didominasi oleh segmen ibu dan anak atau kebugaran umum, kini fitur-fitur khusus pria mulai diintegrasikan secara masif.
Elio, misalnya, telah berhasil merangkul lebih dari 10.000 pelanggan aktif dengan fokus pada tiga pilar utama: solusi kerontokan rambut, perawatan kulit pria, dan kesehatan seksual. Pendekatan mereka tidak hanya sekadar menjual obat, tetapi melalui proses skrining medis berbasis kuesioner dan konsultasi dokter online.
Di sisi lain, tren tahun 2025 juga menunjukkan adanya integrasi Kecerdasan Buatan (AI). AI digunakan untuk menganalisis data riwayat medis pasien pria secara lebih akurat dan memberikan rekomendasi perawatan yang dipersonalisasi. Kementerian Kesehatan RI sendiri melalui Strategi Transformasi Kesehatan Digital (DHTS) 2025-2029 terus mendorong interoperabilitas data kesehatan, yang memungkinkan pasien memantau rekam medis mereka secara mandiri melalui aplikasi seperti SATUSEHAT.
Potensi Ekonomi dan Minat Investor
Pertumbuhan frekuensi investasi ke startup kesehatan lokal tetap positif di awal tahun 2025. Meskipun nilai transaksi yang diumumkan sedikit terkoreksi dibandingkan masa puncak pandemi, diversifikasi ke layanan spesifik seperti kesehatan pria justru dianggap sebagai model bisnis yang lebih berkelanjutan (sustainable).
Segmen “Digital Treatment & Care” diprediksi akan menyumbang pendapatan terbesar di pasar kesehatan digital Indonesia. Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat urban dan meningkatnya kesadaran generasi muda (Gen Z dan Milenial) akan pentingnya perawatan diri (self-care) bagi pria.
Tantangan di Masa Depan
Meski tumbuh pesat, sektor ini masih menghadapi tantangan regulasi, terutama terkait distribusi obat-obatan keras melalui platform digital dan perlindungan data pribadi. Pemerintah melalui Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 terus menyempurnakan pedoman agar inovasi tetap berjalan tanpa mengesampingkan keamanan pasien.
Kesimpulannya, transformasi digital telah mendobrak pintu “ego” pria dalam urusan kesehatan. Dengan kemudahan akses dan jaminan privasi, layanan telehealth khusus pria bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan kebutuhan mendasar yang akan terus berkembang dalam ekosistem kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

