ADAKAMI – Pasca diterjang banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh Tamiang dan sekitarnya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang kini berpacu dengan waktu untuk memulihkan seluruh layanan kesehatan vital. Dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan sinergi bersama TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta PT PLN (Persero) menjadi kunci utama dalam upaya percepatan ini. Kemenkes menargetkan sejumlah layanan dasar di RSUD yang sempat lumpuh total ini dapat beroperasi kembali secara bertahap dalam waktu dekat, memastikan masyarakat terdampak bencana kembali mendapatkan akses kesehatan yang layak.
Pembersihan Intensif dan Lumpur Tebal
Banjir besar yang terjadi pada akhir November lalu telah meninggalkan kerusakan parah, khususnya di RSUD Aceh Tamiang. Berdasarkan laporan, lantai dasar rumah sakit porak-poranda dan tertutup lumpur tebal dengan ketinggian mencapai 40 sentimeter (cm) di beberapa titik, bahkan sudah mulai mengeras. Material lumpur ini merusak fasilitas, alat kesehatan, dan infrastruktur penunjang di area vital pelayanan.
Merespons kondisi darurat ini, upaya pembersihan masif langsung dikerahkan. Sejak Kamis (4/12/2025), puluhan hingga 80 personel gabungan dari TNI Angkatan Darat melalui Kodim 0117/Aceh Tamiang, dibantu oleh BNPB dan petugas Damkar, turun tangan melakukan pembersihan lumpur dan puing-puing. Dandim 0117/Aceh Tamiang, Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, menjelaskan bahwa akses menuju RSUD sempat tertutup oleh kendaraan yang terbawa arus, namun berhasil dipindahkan.
“Pembersihan dilakukan intensif, bahkan di hari Jumat (5/12/2025) kekuatan ditambah hingga 80 orang. Permukaan lantai rumah sakit tertutup lumpur tebal yang merusak seluruh barang dan kondisi di dalamnya,” jelas Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, Sabtu (6/12/2025).
Tim gabungan ini bekerja ekstra keras dengan target penyelesaian pembersihan utama dalam waktu 3 hari. Langkah pembersihan yang cepat dan tuntas menjadi prasyarat agar proses sterilisasi dan perbaikan fasilitas medis dapat segera dilakukan.
Bantuan Logistik dan Pemulihan Listrik Prioritas Kemenkes
Pemulihan fungsi RSUD sangat bergantung pada ketersediaan listrik. Kemenkes dan BNPB memprioritaskan distribusi logistik penting, termasuk genset berkapasitas besar. Pada hari Sabtu (6/12/2025), dilaporkan bahwa pasokan listrik dari genset berkapasitas 100 ribu watt telah berhasil didistribusikan dan dioperasikan di RSUD Aceh Tamiang, memungkinkan fasilitas kesehatan vital tersebut berfungsi kembali secara optimal.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi perkembangan progresif ini.
“Operasional RSUD Aceh Tamiang telah dipastikan kembali normal per hari ini, Sabtu (6/12). Layanan kesehatan sudah dapat dinikmati saudara kita di Aceh Tamiang,” ujarnya dalam konferensi pers.
Selain dukungan listrik, Kemenkes juga memperkuat dukungan logistik dan tenaga ahli. Dukungan alat kesehatan, termasuk dari Rumah Sakit Adam Malik, diberikan untuk memastikan layanan medis dapat berjalan. Tim teknis Kemenkes juga dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan detail terhadap alat-alat kesehatan yang selamat dan sterilisasi menyeluruh di ruang perawatan sebelum kembali dibuka.
“Kami ingin memastikan begitu RSUD dibuka, semua fasilitas dalam kondisi aman, bersih, dan layak bagi pasien,” tegas perwakilan Kemenkes, menekankan pentingnya faktor keamanan dan kebersihan dalam pemulihan layanan pascabencana.
Target Operasional Bertahap dan Posko Kesehatan Darurat
Meskipun kerusakan parah terjadi di lantai dasar, beberapa pasien masih dirawat di lantai 2 RSUD Tamiang yang tidak terkena dampak banjir. Kepala RSUD Tamiang sempat mempertimbangkan evakuasi pasien ke RSUD wilayah Medan sambil menunggu akses transportasi membaik, namun dengan pemulihan listrik dan pembersihan yang cepat, layanan darurat di rumah sakit ini diharapkan dapat segera dioptimalkan kembali di lokasi.
Kemenkes menargetkan sejumlah layanan dasar di RSUD Aceh Tamiang dapat mulai beroperasi kembali secara bertahap dalam waktu dekat. Percepatan ini menjadi krusial mengingat tingginya kebutuhan medis di tengah masa tanggap darurat, terutama untuk penanganan korban luka dan pencegahan penyakit pascabanjir.
Selain RSUD, Kemenkes juga mendukung pembangunan posko kesehatan tepat di sebelah posko pengungsian dan rumah sakit sementara di lokasi yang aman. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kontinuitas pelayanan kesehatan bagi seluruh warga terdampak, termasuk yang berada di wilayah terisolir. Dengan koordinasi yang kuat antara Kemenkes, BNPB, TNI, dan Pemerintah Daerah, pemulihan sektor kesehatan di Aceh Tamiang diharapkan dapat menjadi titik terang dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

