Planetarium Kini Canggih Hadirkan 12 Proyektor 8K dan Hologram Interaktif
Teknologi

Planetarium Kini Canggih: Hadirkan 12 Proyektor 8K dan Hologram Interaktif

ADAKAMI – Dunia edukasi dan wisata astronomi di Indonesia memasuki babak baru. Planetarium kebanggaan kota kini resmi beroperasi kembali setelah menjalani renovasi besar-besaran selama satu tahun terakhir. Tidak sekadar perbaikan fasilitas fisik, daya tarik utama kini terletak pada pemutakhiran teknologi visual yang diklaim sebagai salah satu yang tercanggih di Asia Tenggara.

Pengunjung tidak lagi hanya disuguhi pemandangan bintang statis. Dengan integrasi 12 proyektor laser beresolusi 8K serta sistem hologram interaktif, batas antara realitas dan luar angkasa kini menjadi semakin tipis.

Revolusi Visual dengan 12 Proyektor Mutakhir

Selama puluhan tahun, Planetarium mengandalkan proyektor optomekanik tradisional. Meski ikonik, teknologi lama memiliki keterbatasan dalam menampilkan detail objek langit yang dinamis seperti nebula, tabrakan galaksi, atau simulasi pendaratan di Mars.

Kini, kubah raksasa (dome) Planetarium telah dipasangi sistem proyeksi digital yang terdiri dari 12 unit proyektor laser berperforma tinggi. Keunggulan sistem ini meliputi:

  • Sinkronisasi Sempurna: Dua belas proyektor tersebut bekerja secara simultan dengan teknologi auto-alignment untuk menghasilkan satu gambar utuh tanpa celah (seamless) di seluruh permukaan kubah.
  • Ketajaman 8K: Resolusi tinggi memungkinkan pengunjung melihat tekstur kawah bulan hingga cincin Saturnus dengan detail yang sangat tajam.
  • Spektrum Warna Luas: Teknologi laser memberikan kontras warna yang lebih dalam, menciptakan efek “hitam pekat” ruang angkasa yang jauh lebih realistis dibandingkan proyektor lampu konvensional.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang benar-benar imersif. Dengan 12 proyektor ini, pengunjung tidak merasa sedang menonton film, tetapi merasa seolah-olah sedang melayang di tengah orbit Bumi,” ujar Kepala Pengelola Planetarium dalam acara peresmian kemarin.

Hologram Interaktif: Menyentuh Alam Semesta

Inovasi paling mencolok dalam renovasi ini adalah hadirnya area Galeri Ruang Angkasa Digital yang dilengkapi dengan teknologi hologram interaktif. Berbeda dengan layar sentuh biasa, teknologi ini menggunakan sensor gerak dan proyeksi udara yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan objek 3D tanpa menyentuh perangkat apa pun.

Di area ini, anak-anak dan pelajar dapat “menarik” planet Mars mendekat, memutar posisinya untuk melihat gunung berapi Olympus Mons, atau membedah anatomi matahari untuk melihat zona radiasi di dalamnya. Sensor inframerah yang tertanam di langit-langit galeri mampu membaca gerakan tangan pengunjung dengan tingkat presisi milimeter.

“Sangat luar biasa. Tadi saya mencoba membelah komet menjadi dua bagian untuk melihat inti esnya hanya dengan gerakan tangan di udara. Ini membuat belajar sains jadi terasa seperti bermain video game,” ungkap salah satu siswa sekolah menengah yang hadir dalam kunjungan perdana.

Sistem Audio 3D Dolby Atmos

Melengkapi visual yang megah, sistem audio juga mendapat perombakan total. Planetarium kini menggunakan sistem suara surround 3D. Suara deru mesin roket saat peluncuran atau heningnya ruang hampa udara disalurkan melalui puluhan speaker tersembunyi, menciptakan efek kedalaman suara yang mengikuti pergerakan visual di atas kubah.

Dampak pada Literasi Sains dan Pendidikan

Transformasi teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan minat generasi muda terhadap bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Pihak pengelola telah menyiapkan kurikulum khusus untuk kunjungan sekolah yang mencakup simulasi perjalanan antar bintang, pemahaman tentang perubahan iklim melalui perspektif satelit, hingga pengenalan rasi bintang tradisional Indonesia.

Selain itu, Planetarium kini memiliki kemampuan untuk melakukan Live Streaming Space Observation. Artinya, jika terjadi fenomena astronomi langka seperti Gerhana Matahari atau konjungsi planet, teleskop di observatorium pusat dapat menyambungkan umpan video secara langsung ke 12 proyektor utama di dalam kubah untuk disaksikan bersama oleh ratusan pengunjung secara real-time.

Informasi Operasional dan Harga Tiket

Mengingat tingginya minat masyarakat, pihak pengelola menerapkan sistem pemesanan tiket secara daring (online) untuk menghindari antrean fisik. Planetarium akan beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, dengan jadwal pertunjukan utama sebanyak lima sesi per hari.

Meskipun dilengkapi teknologi canggih bernilai miliaran rupiah, pemerintah setempat berkomitmen untuk menjaga harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat umum, terutama pelajar. Ada pula paket edukasi khusus bagi sekolah-sekolah yang ingin mengadakan karya wisata edukatif.