Mengenal Health Anxiety Saat Cemas Akan Penyakit Jadi Gangguan Mental
Kesehatan

Mengenal Health Anxiety: Saat Cemas Akan Penyakit Jadi Gangguan Mental

ADA KAMI – Pernahkah Anda merasakan kedutan kecil di otot lalu segera mencari gejalanya di internet, hanya untuk berakhir dengan kesimpulan bahwa Anda menderita penyakit mematikan? Jika iya, Anda mungkin mengalami apa yang oleh para psikolog disebut sebagai health anxiety atau yang secara klinis dikenal sebagai hipokondriasis.

Kondisi ini bukan sekadar kepedulian terhadap kesehatan, melainkan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya merasa yakin bahwa mereka sedang atau akan sakit parah, meskipun pemeriksaan medis menunjukkan hasil normal.

Apa Itu Health Anxiety?

Menurut para psikolog, health anxiety adalah kondisi di mana seseorang memiliki kekhawatiran yang menetap dan tidak rasional terhadap kondisi fisiknya. Mengutip penjelasan dari psikolog klinis dalam laporan kesehatan terbaru tahun 2026, kondisi ini sering kali dipicu oleh salah tafsir terhadap sensasi tubuh yang sebenarnya normal, seperti detak jantung yang sedikit kencang atau pusing ringan.

“Masalah utamanya bukan pada gejala fisiknya, melainkan pada bagaimana pikiran mengolah informasi tersebut,” ujar seorang pakar psikoterapi.

Di era digital saat ini, fenomena ini diperparah oleh cyberchondria, yaitu perilaku mencari diagnosis secara mandiri melalui internet yang justru memicu kepanikan massal pada diri sendiri.

Gejala dan Perilaku yang Perlu Diwaspadai

Psikolog mengidentifikasi beberapa tanda utama seseorang terjebak dalam health anxiety:

  1. Pengecekan Tubuh Berulang: Memeriksa benjolan, detak nadi, atau warna kulit secara obsesif setiap hari.
  2. Mencari Kepastian (Reassurance Seeking): Terus-menerus bertanya kepada keluarga atau mengunjungi banyak dokter (doktor shopping) meskipun sudah dinyatakan sehat.
  3. Penghindaran: Takut menonton berita kesehatan atau menghindari pemeriksaan medis karena saking takutnya mendapatkan diagnosis buruk.
  4. Fokus Berlebih pada Sensasi Tubuh: Menghabiskan waktu berjam-jam merenungi fungsi tubuh yang sebenarnya otomatis.

Mengapa Bisa Terjadi?

Faktor pemicunya beragam. Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2025 menunjukkan bahwa setelah pandemi global beberapa tahun lalu, kesadaran kesehatan meningkat drastis, namun diikuti dengan kerentanan mental. Tekanan ekonomi, paparan informasi medis yang tidak tersaring di media sosial, dan riwayat trauma masa kecil (seperti melihat anggota keluarga sakit parah) menjadi katalis utama meningkatnya kasus kecemasan ini di tahun 2026.

Dampak Nyata pada Tubuh

Ironisnya, kecemasan berlebihan ini justru bisa memicu gejala fisik nyata. Saat otak merasa terancam oleh pikiran “saya sakit parah”, sistem saraf melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Akibatnya, muncul gejala fisik seperti:

  • Jantung berdebar kencang.
  • Sesak napas.
  • Gangguan pencernaan (asam lambung meningkat).
  • Otot tegang dan sakit kepala.

Gejala-gejala fisik akibat cemas ini sering kali dianggap oleh penderita sebagai bukti baru bahwa mereka memang sakit fisik, sehingga menciptakan siklus setan yang sulit diputus.

Solusi dan Cara Mengatasi Menurut Psikolog

Untuk mengatasi health anxiety, para ahli menyarankan pendekatan bertahap:

  • Batasi Penggunaan Google: Jangan mencari gejala medis di internet. Informasi di internet sering kali menampilkan skenario terburuk yang belum tentu relevan dengan kondisi Anda.
  • Terapi Kognitif Perilaku (CBT): Ini adalah standar emas untuk mengatasi kecemasan. Terapi ini membantu pasien mengenali pola pikir yang salah dan mengubah perilaku kompulsif mereka.
  • Latihan Mindfulness dan Grounding: Teknik seperti metode 5-4-3-2-1 (melihat 5 benda, menyentuh 4 benda, mendengar 3 suara, mencium 2 aroma, dan merasakan 1 rasa) dapat membantu menarik pikiran kembali ke masa kini dan mengurangi kepanikan.
  • Medical Check-Up yang Terukur: Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sesuai anjuran dokter, bukan atas dorongan rasa cemas sesaat.