ADA KAMI – Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari miliaran pengguna di seluruh dunia. Platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Facebook tidak hanya berfungsi sebagai ruang komunikasi dan hiburan, tetapi juga sebagai arena pembentukan identitas diri, opini publik, dan bahkan kesehatan mental generasi muda. Namun, seiring manfaatnya yang jelas, muncul pertanyaan besar: apakah media sosial lebih banyak menginspirasi atau justru menjadi sumber rasa insekuritas?
Media Sosial sebagai Sumber Inspirasi
Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memiliki potensi besar untuk menginspirasi. Banyak individu, komunitas, dan kreator konten yang memanfaatkan platform digital ini untuk:
- Berbagi kreativitas dan pengetahuan
- Memberikan dukungan emosional
- Menyebarkan cerita positif tentang perjuangan hidup
- Menghubungkan orang-orang dengan minat yang sama
Konten inspiratif sering muncul dalam bentuk cerita perjalanan hidup, tips produktivitas, kolaborasi seniman, sampai konten edukatif tentang hobi atau keahlian tertentu. Bagi sebagian pengguna, konten seperti ini menjadi motivasi untuk mengembangkan diri dan berkarya.
Contoh nyata: Banyak kampanye positif di media sosial yang berhasil menggalang solidaritas, seperti penggalangan bantuan saat bencana, kampanye literasi, atau kolaborasi kreatif yang membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Namun, Ada Sisi Gelap yang Tidak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, banyak peneliti dan pengamat media sosial menyoroti bagaimana platform-platform digital ini dapat menjadi sumber rasa insecure yang signifikan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
1. Perbandingan Sosial yang Menyebabkan Rasa Tidak Cukup
Salah satu kritik paling kuat terhadap media sosial adalah fenomena social comparison yaitu kecenderungan pengguna membandingkan kehidupan mereka dengan versi “terbaik” dari kehidupan orang lain yang dipamerkan secara online. Studi menunjukkan bahwa perbandingan berulang seperti ini dapat:
- Menurunkan rasa percaya diri
- Meningkatkan kecemasan
- Mendorong rasa iri dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Tak jarang, pengguna merasa jika kehidupan mereka tidak seindah atau tidak seterkenal orang lain di feed mereka, padahal banyak konten sebenarnya adalah representasi yang sangat dikurasi.
2. Tekanan Umpan Balik Sosial (Likes, Komentar, Followers)
Menurut psikolog, fitur-fitur seperti likes, komentar, dan jumlah pengikut sering dipersepsikan sebagai ukuran penerimaan sosial yang nyata, terutama oleh remaja. Ketidakmampuan sebuah postingan untuk “perform” dengan baik bisa membuat pengguna merasa ditolak atau tidak cukup populer, yang kemudian memperburuk rasa insecure mereka.
Psikolog juga mencatat bahwa rem (fear of missing out / FOMO) dan tekanan untuk tampil sempurna bisa memengaruhi pola tidur, suasana hati, dan kesejahteraan psikologis remaja.
3. Studi Kasus Artis & Pengguna yang Merasakan Insecure
Dalam berita hiburan nasional, penyanyi Vidi Aldiano mengakui bahwa ia merasa insecure saat harus mengunggah kembali foto dan video ke media sosial setelah jeda waktu dari dunia hiburan. Ia bahkan sempat vakum karena tekanan terhadap ekspektasi audiens di platform digital.
Selain itu, konten yang penuh ‘relationship goals’ atau gambaran pasangan ideal kerap dikritik karena memberi tekanan tidak realistis pada kehidupan pribadi pengguna.
Konten Positif vs Konten Negatif: Siapa yang Menang?
Sebagian ahli berpendapat bahwa bukan platform yang salah, tetapi cara pengguna memakainya yang menentukan efeknya terhadap kesejahteraan mental.
Menurut sebuah penelitian, media sosial bisa menjadi alat guna memperkuat rasa kebersamaan, motivasi, dan kesadaran sosial apabila digunakan untuk berbagi konten yang inspiring. Namun jika pengguna fokus pada konsumsi konten yang menimbulkan perbandingan sosial atau tekanan prestasi, efek negatif justru meningkat.
Solusi: Literasi Digital dan Penggunaan Sehat Media Sosial
Para ahli kesehatan mental dan edukator digital menyarankan beberapa langkah untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalisir dampak buruk:
Meningkatkan literasi digital sehingga pengguna lebih sadar memilih konten berdampak positif.
Mengatur waktu penggunaan dan menetapkan batasan untuk konsumsi konten yang mungkin memicu perbandingan sosial.
Fokus pada interaksi yang mendukung, seperti komunitas yang saling menguatkan, bukan sekadar mengejar jumlah pengikut.
Kesimpulan: Inspirasi dan Insecure Beriringan
Media sosial sejatinya adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, platform digital ini bisa menjadi ruang inspirasi memberikan motivasi, kesempatan kolaborasi, dan interaksi sosial yang bermakna. Di sisi lain, tanpa kesadaran dan kontrol diri, media sosial bisa memicu rasa insecure, kecemasan, dan perbandingan negatif yang merusak kesehatan mental.
Intinya bukan pada apakah media sosial selalu buruk atau baik, tetapi bagaimana kita sebagai pengguna dapat mengelolanya dengan bijak memilih konten yang memberi inspirasi dan mengurangi paparan terhadap konten yang dapat memicu perasaan tidak aman atau rendah diri.

