ADAKAMI – Di tengah hiruk pikuk Kota Kembang, Bandung, tersembunyi sebuah kisah cinta dan perjuangan yang tak hanya menghangatkan hati, tetapi juga menjadi mercusuar inspirasi bagi banyak orang. Adalah Awenk (43) dan istrinya, Sri Wahyuni (40), pasangan suami istri difabel yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan, kemandirian, dan kesuksesan.
Awenk dan Sri, keduanya mengalami polio sejak kecil, yang mengakibatkan kesulitan dalam berjalan. Awenk menggunakan kursi roda sebagai mobilitas utamanya, sementara Sri mengandalkan tongkat. Namun, di balik keterbatasan tersebut, terpancar semangat baja yang mengobarkan api optimisme dalam menjalani hidup sehari-hari.
Merajut Asa dalam Keterbatasan
Pertemuan Awenk dan Sri berawal dari komunitas sesama penyandang disabilitas di Bandung. Dari pertemanan, benih-benih cinta tumbuh, dan mereka memutuskan untuk mengikat janji suci. Pernikahan mereka menjadi tonggak awal dari perjalanan hidup yang penuh tantangan, namun selalu dilandasi oleh saling pengertian dan dukungan tanpa batas.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi bukanlah pada kondisi fisik, melainkan pada stigma dan kesulitan ekonomi. Mencari pekerjaan yang layak bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih merupakan perjuangan tersendiri. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Awenk dan Sri memilih jalur kemandirian melalui wirausaha.
Usaha Kreatif dan Inovatif
Pasangan ini memulai bisnis kecil-kecilan dari rumah mereka. Dengan keahlian yang dimiliki Awenk dalam bidang elektronik dan ketekunan Sri, mereka merintis usaha servis dan perbaikan barang-barang elektronik bekas serta kerajinan tangan dari bahan daur ulang.
“Awalnya sulit sekali. Kami harus mencari pelanggan dari mulut ke mulut, seringkali harus menahan rasa sakit karena harus bolak-balik mengantar atau mengambil barang dengan kondisi kami,” kenang Sri dengan suara lembut, yang tak menyiratkan sedikit pun keluhan.
Namun, kualitas hasil kerja Awenk dalam memperbaiki peralatan elektronik dari speaker rusak hingga kipas angin yang mati cepat menyebar. Pelanggannya merasa puas karena Awenk tidak hanya cekatan, tetapi juga sangat jujur dalam menentukan harga dan kerusakan.
Di sisi lain, Sri mengembangkan bakatnya dalam merangkai manik-manik dan membuat aksesoris. Hasil karyanya yang unik, mulai dari gelang, kalung, hingga gantungan kunci, mulai menarik perhatian pembeli, terutama setelah mereka berani memasarkannya secara daring melalui media sosial.
Teknologi sebagai Jembatan
Kemandirian ekonomi Awenk dan Sri semakin terangkat berkat adopsi teknologi. Mereka memanfaatkan smartphone dan internet tidak hanya untuk memasarkan produk, tetapi juga untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan bahkan mengikuti pelatihan daring tentang pengembangan usaha mikro.
“Internet itu anugerah bagi kami. Kami tidak perlu jauh-jauh keluar rumah untuk promosi atau belajar. Semua bisa dijangkau dari sini,” ujar Awenk sambil menunjuk ke meja kerjanya yang dipenuhi komponen elektronik. Baginya, teknologi telah menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok-tembok diskriminasi dan keterbatasan akses.
Inspirasi Tanpa Batas
Kisah Awenk dan Sri telah menyentuh hati banyak pihak. Beberapa komunitas dan organisasi non-pemerintah yang peduli terhadap disabilitas mulai memberikan pendampingan dan modal usaha. Mereka bukan hanya menerima bantuan, tetapi juga aktif berbagi ilmu dan pengalaman kepada sesama penyandang disabilitas yang ingin merintis usaha.
“Kami ingin menunjukkan bahwa difabel itu bukan berarti tidak bisa. Kami punya hak yang sama untuk mandiri, berkarya, dan bahagia,” tegas Awenk.
Mereka berdua adalah bukti nyata bahwa cinta sejati adalah fondasi kekuatan. Sri selalu sigap membantu Awenk dengan urusan logistik, dan Awenk selalu memastikan Sri merasa dihargai dan dicintai.
Kisah Awenk dan Sri dari Bandung ini adalah pengingat yang kuat: kemanusiaan sejati terletak pada semangat yang tak terbatas, bukan pada kondisi fisik. Mereka telah mengubah keterbatasan menjadi sumber kekuatan, menantang persepsi usang tentang disabilitas, dan memberikan pesan universal tentang arti sebenarnya dari perjuangan, cinta, dan kemandirian. Kisah mereka layak menjadi inspirasi bagi setiap individu di Indonesia untuk tidak pernah berhenti berjuang dan berkarya, apapun tantangannya.

