ADAKAMI – Pekan Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara (SEA Games) ke-33 di Thailand tahun 2025 tidak hanya menjadi panggung bagi bintang-bintang muda, tetapi juga arena inspirasi yang memukau. Dengan debut cabang olahraga (cabor) Woodball, sebuah olahraga yang menggabungkan presisi golf dan kriket, sorotan tertuju pada para atlet yang membuktikan bahwa semangat juang dan prestasi tidak mengenal batas usia. Mereka adalah para “Atlet Usia Senja” yang membawa kisah dedikasi dan kebugaran yang luar biasa, menantang stereotip, dan menjadi simbol harapan di tengah persaingan regional.
Woodball, yang berasal dari Taiwan, membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik; ia menuntut konsentrasi tinggi, ketepatan akurasi, dan kestabilan mental kualitas yang sering kali matang seiring bertambahnya usia. Cabor yang memperebutkan enam medali emas ini telah menarik perhatian karena profil atletnya yang unik, terutama dari beberapa kontingen negara.
Ahris Sumariyanto: Bangkit dari Pensiun Demi Merah Putih
Dari Indonesia, kisah Ahris Sumariyanto (usia tidak disebutkan, namun dikategorikan senior) menjadi salah satu yang paling mengharukan. Setelah sempat memutuskan pensiun dari dunia woodball, niatnya kembali menyala tak terbendung ketika mendengar kabar bahwa cabor yang ia cintai akan dipertandingkan untuk pertama kalinya di SEA Games.
Ahris, yang dikenal sebagai salah satu atlet timnas putra kebanggaan Indonesia dan kerap menyumbang medali di berbagai pertandingan internasional, membuktikan bahwa kemampuan terbaiknya belum padam. Dalam persiapannya, ia bahkan sempat mempersembahkan dua emas untuk Indonesia di nomor Tim Stroke Putra dan Single Stroke Putra pada turnamen sebelumnya. Keputusannya untuk kembali berlaga di usia senja bukan hanya tentang medali, tetapi tentang mewujudkan mimpi dan membuktikan dedikasi seumur hidupnya pada olahraga ini.
Ketua Umum Indonesia Woodball Association (IWbA), Aang Sunadji, telah menargetkan timnas woodball Indonesia untuk meraih hingga lima medali emas, bahkan optimis bisa menyapu bersih enam medali yang tersedia. Kepercayaan ini didasarkan pada rekam jejak tim yang baru-baru ini memborong delapan emas di Hong Kong International Open Championship 2025, dengan Ahris menjadi bagian vital dari tim.
Tan Kok Tiong: Atlet Tertua Singapura yang Mengincar Sejarah
Namun, mungkin kisah yang paling mencuri perhatian datang dari kontingen Singapura. Adalah Tan Kok Tiong, atlet woodball berusia 75 tahun, yang tercatat sebagai atlet tertua di antara seluruh kontingen Singapura yang berjumlah 930 orang. Tekadnya untuk berkompetisi di debut SEA Games-nya di usia yang sangat matang ini menjadi berita utama di Asia Tenggara.
Faktanya, tim woodball putra Singapura memiliki rata-rata usia di atas 65 tahun, dengan lima dari enam pemain tim putri juga berusia di atas 60 tahun. Tan Kok Tiong, yang dulunya berprofesi sebagai pialang saham, menemukan woodball setelah pensiun. Ia membuktikan bahwa woodball adalah olahraga yang ramah usia dan dapat dimainkan untuk tujuan rekreasi sekaligus kompetitif di level tertinggi.
Meskipun usianya jauh melampaui rekan-rekan atlet dari cabor lain, Tan menunjukkan kebugaran dan fokus yang tak lekang oleh waktu. Ia tidak hanya sekadar ikut serta; Asosiasi Woodball Singapura menargetkan minimal dua medali dari enam nomor yang dipertandingkan. Kehadiran Tan Kok Tiong menjadi inspirasi nyata bagi gerakan penuaan aktif (active ageing) di seluruh kawasan.
“Istri saya bilang saya gila,” kata Tan Kok Tiong sambil tertawa, merujuk pada intensitas latihannya menjelang SEA Games, “Tetapi saya tidak peduli, saya hanya terus belajar. Perlahan, saya menjadi lebih baik.”
Warisan dan Semangat Abadi
Debut woodball di SEA Games 2025 di Thailand ini bukan hanya perkenalan cabor baru, tetapi juga perayaan terhadap inklusivitas olahraga. Woodball memungkinkan atlet dari berbagai usia untuk bersaing berdasarkan keterampilan dan ketenangan, menjadikannya arena yang unik dan adil.
Kisah Ahris Sumariyanto dari Indonesia dan Tan Kok Tiong dari Singapura bersama dengan atlet senior lainnya dari berbagai negara ASEAN mengirimkan pesan yang kuat: semangat kompetisi, dedikasi, dan impian meraih prestasi tidak pernah memiliki tanggal kedaluwarsa. Mereka adalah bukti hidup bahwa olahraga adalah jembatan untuk menjaga kebugaran fisik dan mental, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berjuang tanpa memandang tantangan usia. Mereka bukan sekadar bersaing untuk medali, tetapi untuk mengukir sejarah dan meninggalkan warisan semangat yang abadi.

