ADA KAMI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memanfaatkan teknologi canggih dalam pemberantasan hama pada tanaman durian, komoditas unggulan yang menjadi kebanggaan petani di wilayah tersebut. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas buah durian, tapi juga mengurangi kerugian akibat serangan hama secara signifikan.
Latar Belakang Tantangan Petani Durian
Kabupaten Pasuruan dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil durian unggulan di Jawa Timur. Desa Kronto di Kecamatan Lumbang bahkan terkenal dengan produksi durian berkualitas seperti varietas Si Kasmin, Si Laron, dan Si Karim yang telah menjadi ikon lokal serta diekspor ke kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Jakarta.
Namun, produksi durian di daerah ini tidak lepas dari ancaman hama yang sering menyerang tanaman. Hama tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada daun, bunga, bahkan buah yang pada akhirnya mengurangi hasil panen dan pendapatan petani. Kerusakan ini berdampak langsung terhadap usaha tani durian yang notabene menyerap tenaga kerja lokal dan menjadi penopang ekonomi pedesaan.
Kerja Sama Pemkab Pasuruan
Untuk mengatasi masalah tersebut secara ilmiah dan berkelanjutan, Pemkab Pasuruan menggandeng BRIN dalam sebuah program inovatif. Dalam kerja sama ini, BRIN akan memfasilitasi penelitian dan penerapan teknologi terkini untuk mendeteksi, memantau, dan memberantas hama durian secara efektif.
Teknologi yang dimaksud diperkirakan meliputi penggunaan sistem sensor canggih, pemantauan berbasis data, dan kemungkinan integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi serangan hama sejak dini. Upaya ini sejalan dengan tren baru dalam pertanian modern di Indonesia yang mengombinasikan riset tinggi dengan praktik lapangan agar hasil pertanian lebih optimal serta risiko lebih kecil.
Para petani durian terlihat menyambut baik kerja sama ini karena teknologi seperti deteksi dini dan pemetaan hama bisa membantu mereka mengetahui pola serangan, jenis hama yang menyerang, hingga fase perkembangan hama informasi yang selama ini sulit mereka dapatkan hanya dengan cara tradisional.
Potensi Manfaat Teknologi Canggih
Menurunnya serangan hama membawa sejumlah manfaat strategis:
- Peningkatan Produktivitas
Dengan kemampuan mendeteksi hama secara lebih cepat dan akurat, petani dapat melakukan tindakan preventif dan kuratif sebelum hama menyebar luas. Hal ini berpotensi menaikkan hasil panen durian secara signifikan, bahkan di luar musim puncak panen. - Pengurangan Kerugian Ekonomi
Kerugian akibat serangan hama sering membuat petani mengalami gagal panen pada bagian tertentu dari kebun mereka. Teknologi mampu membantu menekan tingkat kerugian ini dan menjadikan usaha tani durian lebih stabil secara ekonomi. - Efisiensi dalam Penggunaan Pestisida
Dengan pemantauan dan identifikasi yang akurat, penggunaan pestisida bisa lebih terukur hanya ketika benar-benar diperlukan. Ini tidak hanya menghemat biaya bagi petani, tetapi juga menjaga lingkungan agrikultur agar lebih sehat. - Data sebagai Dasar Keputusan
Pemanfaatan data hasil monitoring hama memungkinkan penyusunan strategi pertanian yang lebih ilmiah di masa depan. Bukan sekadar berdasarkan pengalaman turun-temurun, tetapi berdasarkan bukti yang terukur dan terdokumentasi secara digital.
Sinergi Riset dan Pemerintah Daerah
Kolaborasi Pemkab Pasuruan dan BRIN juga menjadi contoh nyata dari sinergi antara lembaga riset nasional dengan pemerintahan daerah. BRIN, sebagai lembaga riset pemerintah, memiliki sumber daya ilmiah yang kuat, sementara Pemkab Pasuruan memiliki basis petani luas yang bisa dijadikan lokasi uji aplikasi teknologi.
Model kerja sama semacam ini diharapkan bisa menjadi blueprint bagi pemerintah daerah lain di Indonesia yang memiliki komoditas unggulan serupa, namun menghadapi persoalan serangan hama yang terus-menerus.
Tanggapan Petani dan Pemerintah
Bupati Pasuruan dalam beberapa pernyataannya menyampaikan optimismenya bahwa kerja sama dengan BRIN akan membawa dampak positif tidak hanya bagi komoditas durian, tetapi juga bagi pertanian secara umum di Kabupaten Pasuruan. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan petani melalui teknologi merupakan langkah penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar regional dan nasional.
Sementara itu, beberapa petani durian menyatakan bahwa selama ini mereka bergantung pada pengalaman manual dalam mengendalikan hama. Kehadiran teknologi canggih dinilai sebagai angin segar karena mampu memberikan solusi yang lebih cepat dan berbasis data ilmiah.
Tantangan dan Langkah Ke Depan
Meski menyimpan banyak potensi, adopsi teknologi canggih di sektor pertanian juga tidak tanpa tantangan. Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi meliputi:
- Pelatihan dan literasi teknologi bagi petani agar mereka mampu memanfaatkan alat dan data secara maksimal.
- Biaya awal penerapan teknologi yang tinggi, sehingga perlu dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi atau insentif teknologi.
- Integrasi data antara semacam farm-to-fork digital platform agar informasi hama dan serangan tersebut bisa dibagikan secara real-time di komunitas petani.
Untuk itu, rencana selanjutnya adalah menyusun fase uji coba teknologi di beberapa titik kebun durian di Kabupaten Pasuruan, dilanjutkan dengan evaluasi dan optimalisasi hingga skala lebih luas.

