Gaji Pas-pasan Ini 6 Tips Atur Keuangan Sandwich Generation
Tips & Edukasi

Gaji Pas-pasan? Ini 6 Tips Atur Keuangan Sandwich Generation

ADA KAMI – Fenomena sandwich generation atau generasi roti lapis kini bukan lagi sekadar istilah sosiologi, melainkan realitas pahit yang dihadapi jutaan pekerja di Indonesia. Terjepit di antara kewajiban membiayai orang tua yang memasuki masa pensiun dan kebutuhan tumbuh kembang anak, kelompok ini sering kali merasa “napas” keuangannya sesak, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan setara Upah Minimum Regional (UMR) atau pas-pasan.

Memasuki tahun 2026, tantangan ekonomi seperti inflasi pangan dan biaya pendidikan yang terus merangkak naik menuntut strategi yang lebih dari sekadar “hemat”. Dibutuhkan manajemen arus kas yang presisi dan ketahanan mental yang kuat agar rantai beban ini tidak terus berlanjut ke generasi berikutnya.

Memahami Realitas Lapis Atas dan Bawah

Bagi mereka yang bergaji pas-pasan, tantangan utama bukan terletak pada gaya hidup mewah, melainkan pada akumulasi pengeluaran mikro yang tidak terduga. Orang tua yang jatuh sakit, kebutuhan mendadak sekolah anak, hingga perbaikan rumah sering kali menjadi pemicu utama kegagalan finansial.

Data menunjukkan bahwa tanpa perencanaan, sandwich generation berisiko tinggi terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online (pinjol) ilegal atau utang konsumtif demi menutupi defisit bulanan. Oleh karena itu, langkah-langkah konkret harus segera diambil.

1. Transparansi dan Komunikasi Intra-Keluarga

Langkah pertama yang sering dianggap tabu namun krusial adalah keterbukaan. Di Indonesia, membicarakan uang dengan orang tua sering dianggap tidak sopan atau tidak berbakti. Namun, dalam kondisi gaji terbatas, Anda harus berani memaparkan kondisi dapur Anda.

Jelaskan berapa kapasitas maksimal yang bisa Anda berikan untuk orang tua tanpa mengorbankan nutrisi anak Anda. Komunikasi ini bertujuan agar orang tua dapat ikut memilah mana kebutuhan primer dan mana keinginan yang bisa ditunda. Jika Anda memiliki saudara kandung, diskusikan pembagian beban secara adil agar tanggung jawab tidak menumpuk di satu bahu saja.

2. Reformasi Alokasi Gaji: Metode 50/30/20 yang Dimodifikasi

Metode konvensional mungkin sulit diterapkan jika angka gaji tidak fleksibel. Namun, prinsip alokasi tetap harus ada. Untuk gaji pas-pasan, prioritaskan pos berikut:

  • Pos Wajib (60%): Mencakup cicilan (jika ada), biaya makan keluarga, sekolah anak, dan biaya rutin orang tua.
  • Pos Proteksi dan Dana Darurat (10%): Jangan meremehkan angka kecil. Menyisihkan Rp200.000 secara konsisten jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
  • Pos Operasional (20%): Transportasi kerja dan tagihan listrik/air.
  • Pos Sisa (10%): Digunakan untuk keperluan mendesak yang bersifat variabel.

3. Memanfaatkan Fasilitas Negara (BPJS adalah Penyelamat)

Bagi sandwich generation, kesehatan adalah aset. Satu kali anggota keluarga masuk rumah sakit tanpa asuransi bisa langsung menguras tabungan setahun. Pastikan diri Anda, anak-anak, dan terutama orang tua sudah terdaftar di BPJS Kesehatan. Pastikan iurannya rutin dibayar agar statusnya selalu aktif. Ini adalah cara termurah untuk memitigasi risiko finansial terbesar di Indonesia.

4. Strategi Belanja Smart & Bulk

Menghemat pengeluaran harian bisa dilakukan dengan mengubah pola belanja. Membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar (bulk buying) di pasar tradisional atau saat ada promo di supermarket bisa menghemat hingga 15-20% pengeluaran bulanan. Selain itu, membawa bekal ke kantor bukan lagi soal gengsi, melainkan strategi bertahan hidup agar uang transportasi dan makan siang bisa dialihkan ke pos susu anak atau obat-obatan orang tua.

5. Memutus Rantai di Masa Depan

Tragedi terbesar dari sandwich generation adalah jika mereka gagal menyiapkan masa tua mereka sendiri, sehingga kelak anak-anak mereka akan menjadi sandwich generation berikutnya. Walaupun gaji pas-pasan, mulailah melirik instrumen investasi berisiko rendah seperti Reksa Dana Pasar Uang atau emas mulai dari nominal Rp10.000. Tujuannya satu: memiliki dana pensiun sendiri agar di masa depan Anda tidak bergantung secara finansial kepada anak Anda.

6. Mencari Pendapatan Tambahan Tanpa Modal Besar

Jika efisiensi sudah maksimal namun angka tetap tidak bertemu, maka solusinya adalah memperbesar keran pendapatan. Di era digital, banyak peluang sampingan yang bisa dilakukan setelah jam kantor, seperti menjadi dropshipper, penulis lepas, atau memanfaatkan keahlian teknis lainnya secara daring. Pendapatan tambahan ini tidak boleh digunakan untuk konsumsi, melainkan khusus untuk mengisi dana darurat.