Pidato Tahun Baru 2026 Xi Jinping Pamer Kekuatan Teknologi dan Sinyal Keras Reunifikasi Taiwan
Teknologi

Pidato Tahun Baru 2026 Xi Jinping: Pamer Kekuatan Teknologi dan Sinyal Keras Reunifikasi Taiwan

ADA KAMI – Menyongsong fajar tahun 2026, Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato tahunan yang sarat dengan optimisme nasionalisme dan pesan geopolitik yang kuat. Disiarkan melalui media pemerintah China Media Group (CMG) pada Rabu malam (31/12/2025), Xi menyoroti keberhasilan China menyelesaikan Rencana Lima Tahun ke-14 dan memuji pencapaian teknologi yang ia sebut sebagai “keajaiban baru China,” sembari mempertegas komitmen Beijing untuk menyatukan kembali Taiwan dengan daratan utama.

Dominasi Teknologi dan Kemandirian Inovasi

Dalam pidato yang berlangsung khidmat dari kantornya di Zhongnanhai, Xi Jinping menekankan bahwa tahun 2025 telah menjadi tonggak sejarah bagi kekuatan sains dan teknologi Tiongkok. Ia secara eksplisit menyebutkan bahwa China kini telah menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan kapasitas inovasi tercepat di dunia.

“Inovasi telah menjadi motor penggerak pembangunan berkualitas tinggi kita,” ujar Xi.

Ia menyoroti beberapa pencapaian spesifik yang berhasil diraih sepanjang tahun 2025, antara lain:

  • Kemandirian Semikonduktor: Terobosan besar dalam riset dan pengembangan chip buatan dalam negeri yang mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat.

  • Kecerdasan Buatan (AI): Persaingan model AI skala besar China yang kini mulai mendominasi panggung global.

  • Eksplorasi Ruang Angkasa: Peluncuran wahana Tianwen-2 untuk misi eksplorasi komet dan asteroid.

  • Kekuatan Militer: Peresmian kapal induk Fujian, kapal induk pertama China yang dilengkapi sistem pelontar elektromagnetik, yang kini telah beroperasi penuh.

Xi menggambarkan visualisasi kemajuan ini melalui kehadiran robot humanoid dan pertunjukan drone masif yang mewarnai kehidupan masyarakat, menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar angka statistik, melainkan elemen yang memperkaya dimensi kehidupan rakyat China.

Ketegasan atas Taiwan: Tren yang Tak Terbendung

Bagian paling sensitif dan menyita perhatian dunia adalah pernyataan Xi mengenai Taiwan. Pidato ini disampaikan hanya berselang satu hari setelah militer China (PLA) menyelesaikan latihan tempur besar-besaran bertajuk “Justice Mission 2025” yang mengepung pulau tersebut.

Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, Xi menyatakan bahwa reunifikasi tanah air adalah sebuah keniscayaan sejarah.

“Rakyat di kedua sisi Selat Taiwan terikat oleh ikatan darah yang lebih kental daripada air. Penyatuan kembali tanah air kita adalah tren zaman yang tidak akan bisa dihentikan oleh kekuatan mana pun,” tegasnya.

Pernyataan ini dianggap sebagai pesan langsung kepada pemerintah di Taipei dan sekutu Baratnya, terutama Amerika Serikat, yang baru-baru ini menyetujui penjualan senjata rekor senilai $11 miliar ke Taiwan. Meskipun Xi tidak menyebutkan penggunaan kekuatan militer secara spesifik dalam pidato tersebut, konteks latihan militer yang baru saja berakhir memberikan sinyal kuat akan kesiapan Beijing untuk mengambil langkah drastis jika diperlukan.

Menyongsong Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030)

Memasuki tahun 2026, Xi mengajak seluruh rakyatnya untuk bersiap memulai Rencana Lima Tahun ke-15. Ia memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) China akan mencapai angka 140 triliun yuan (sekitar $20 triliun) pada tahun 2025, memberikan fondasi ekonomi yang kokoh untuk ambisi jangka panjangnya.

“Tahun 2026 adalah awal yang baru. Kita harus fokus pada tujuan kita, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun momentum untuk terus maju,” kata Xi.

Ia menjanjikan “kemakmuran bagi semua” (common prosperity) dan reformasi yang lebih mendalam untuk memastikan China tetap berada di “sisi sejarah yang benar.”

Analisis Global: China yang Semakin Percaya Diri

Para analis internasional melihat pidato ini sebagai refleksi dari China yang semakin percaya diri dalam menghadapi tekanan eksternal. Di tengah sanksi teknologi dari Amerika Serikat dan ketegangan di Laut China Selatan, Xi memilih untuk memamerkan “otot” inovasi sebagai bukti bahwa strategi kemandirian Tiongkok mulai membuahkan hasil.

Namun, penegasan kembali soal Taiwan di awal tahun baru diprediksi akan meningkatkan suhu geopolitik di kawasan Asia-Pasifik. Taiwan, melalui Presiden Lai Ching-te, sebelumnya telah mengecam latihan militer China sebagai tindakan “sembrono” yang mengancam stabilitas global dan jalur perdagangan maritim.

Sebagai penutup pidatonya, Xi menyampaikan harapan agar “matahari tahun baru membawa kemakmuran bagi ibu tanah air yang agung” dan mengimbau masyarakat internasional untuk bersama-sama membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.