ADAKAMI – Sejumlah pengungsi korban banjir bandang dan longsor di Kota Padang, Sumatera Barat, kini mulai mengalami gangguan kesehatan, demikian diungkapkan oleh tenaga medis dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat. Kondisi ini menjadi tantangan baru di tengah upaya pemulihan pascabanjir yang telah menelan banyak korban dan memaksa ribuan warga mengungsi dari rumah mereka.
Banjir bandang yang melanda wilayah Padang dan sekitarnya pada akhir November 2025 merupakan bagian dari serangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra. Gelombang hujan deras yang dipicu fenomena cuaca ekstrem mengakibatkan sungai meluap, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur yang luas. Hingga awal Desember, ratusan warga meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, dan lebih dari puluhan ribu orang terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi pengungsian di Kota Padang dan sekitarnya.
Menurut dokter dari Puskesmas yang bertugas di lokasi pengungsian, gejala gangguan kesehatan mulai muncul di antara para penyintas yang berada di posko-posko pengungsian. Dokter Lusiana Yanti di Puskesmas Pauh menjelaskan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi masalah utama yang paling banyak ditemui dalam pemeriksaan kesehatan warga. Gejala seperti pilek, flu, batuk, dan sesak napas mulai merebak, terutama di kalangan pengungsi yang beraktivitas di tenda-tenda darurat dengan ventilasi yang kurang optimal.
“Khusus di lokasi pengungsian, penyakit yang paling banyak terjadi adalah ISPA. Banyak warga batuk dan pilek, dan penularan terjadi cepat karena kondisi darurat di pengungsian,” ujar Lusiana dalam wawancara dengan media lokal.
Penyebab dan Faktor Risiko Kesehatan
Para tenaga kesehatan mengatakan bahwa gangguan kesehatan ini dipicu oleh beberapa faktor yang berhubungan erat dengan kondisi lingkungan pascabanjir. Beberapa faktor utama meliputi:
- Kondisi Lingkungan yang Lembap dan Kotor: Endapan lumpur dan sisa kotoran dari banjir mencemari area pengungsian. Debu dan partikel kecil yang beterbangan akibat lumpur mengering menjadi pemicu gangguan saluran pernapasan.
- Keterbatasan Fasilitas dan Sanitasi: Sarana sanitasi di posko darurat masih sangat terbatas. Air bersih yang kurang banyak dan fasilitas mandi cuci kakus yang sederhana membuat warga sulit menjaga kebersihan, meningkatkan risiko penyakit kulit seperti gatal, ruam, dan infeksi kulit ringan.
- Penurunan Daya Tahan Tubuh: Selepas trauma fisik dan stres akibat bencana, daya tahan tubuh banyak penyintas menurun. Kondisi ini mempercepat penyebaran penyakit, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka dengan penyakit bawaan.
- Pencemaran Air dan Udara: Sisa lumpur dan sisa banjir meningkatkan partikel di udara serta menimbulkan bau dan kontaminasi air, sehingga penyintas berisiko lebih tinggi terhadap gangguan pernapasan dan penyakit kulit.
Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat ribuan warga masih mengungsi di posko-posko di berbagai kecamatan, termasuk Nanggalo dan Pauh. Data dari kelurahan setempat menunjukkan sejumlah warga pengungsi yang terjangkit ISPA mencapai puluhan hingga ratusan orang, sementara laporan klinis lain mencatat gejala demam, batuk berkepanjangan, serta keluhan kulit gatal-gatal.
Upaya Pemerintah dan Tenaga Medis
Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan Kota Padang bersama tim medis puskesmas dan relawan kesehatan terus melakukan pelayanan kesehatan keliling di area posko pengungsian. Selain pemeriksaan dan pengobatan dasar, tim kesehatan juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri, penggunaan masker, serta konsumsi air putih yang cukup untuk memperkuat daya tahan tubuh.
Langkah-langkah ini termasuk pemberian obat-obatan dasar, pembagian multivitamin, serta pemberian masker gratis kepada para pengungsi untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut. Selain itu, petugas kesehatan juga berupaya menyaring air yang digunakan warga agar lebih aman untuk konsumsi dan kebersihan, walaupun akses air bersih masih menjadi tantangan besar di beberapa titik pengungsian.
Pemerintah pusat juga telah mengirim tambahan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra, termasuk dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya, untuk memperkuat layanan kesehatan di lapangan. Ribuan tenaga kesehatan ini dijadwalkan bergabung secara bertahap untuk membantu layanan medis selama fase tanggap darurat dan awal pemulihan.
Tantangan dan Harapan
Meski upaya medis terus diperkuat, tantangan di lapangan tetap signifikan. Banyak pengungsi masih tinggal di tenda darurat tanpa fasilitas memadai, sementara kebutuhan logistik seperti obat-obatan, air bersih, dan nutrisi sehat masih terus dikoordinasikan antara pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan lembaga bantuan lainnya.
Ahli kesehatan masyarakat juga menekankan pentingnya antisipasi lebih jauh terhadap penyakit menular dan masalah kesehatan mental yang dapat muncul di tengah kehidupan darurat ini. Studi global menunjukkan bahwa populasi pengungsi sering menghadapi gangguan mental seperti stres, cemas, dan gangguan tidur seiring tekanan fisik dan emosional akibat bencana.
Para tenaga medis berharap dengan dukungan yang lebih terkoordinasi, penyediaan fasilitas yang lebih layak, dan peningkatan pasokan bantuan kesehatan, tren peningkatan gangguan kesehatan di antara pengungsi dapat ditekan. Ini menjadi bagian penting dari proses pemulihan yang lebih luas bagi masyarakat Padang yang terdampak banjir bandang tersebut.

